
Oleh: Yulida Hasanah
(Aktivis Muslimah Brebes)
Linimasanews.id—Sungguh, kekejian dan kebrutalan Zionis Israel terus-menerus memberangus dan mencabik-cabik tubuh anak-anak kecil Gaza yang tidak berdosa. Para perempuan di sana juga terus menjadi sasaran kekejian dan kebuasan. Tak berhenti pada penyiksaan. Di Titik lemah kondisi rakyat Gaza, mereka berada dalam ancaman pengusiran oleh Zionis laknatullah.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan rencana mendorong warga Palestina meninggalkan jalur Gaza masih menjadi opsi yang dibahas oleh pemerintah Israel. Rencana ini belum sepenuhnya dibatalkan oleh Presiden AS, Donald Trump, tetapi hanya ditangguhkan. Artinya, Israel masih menunggu lampu hijau dari pemimpin AS untuk memindahkan rakyat Palestina. Dan bagi Israel, ini adalah solusi nyata bagi Gaza, yakni migrasi (Kompas.com, 3/9/2026).
Terkait rencana pemerintah Israel tersebut, dunia Islam ikut bersuara. Indonesia bersama tujuh negara Arab yakni Arab Saudi, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Pakistan, dan Turki beserta mayoritas muslim mengecam keras Israel untuk memindahkan warga palestina dari jalur Gaza. Kedelapan negara tersebut menilai rencana pengusiran secara paksa ini dapat mengancam upaya perdamaian di Gaza yang didukung Amerika Serikat (Kompas.com, 6/9/2026).
Keberanian Zionis Israel untuk mengusir paksa warga Palestina membuka mata kita tentang konsekuensi logis adanya negara bangsa (nation-state). Di mana negeri-negeri muslim sejak tercabik-cabik kesatuannya, masalah menyelamatkan Palestina hanya berhenti pada upaya lisan, bukan kekuatan militer. Wajar saja jika kecaman keras negeri-negeri muslim di dunia tidak akan pernah mampu menghentikan rencana keji Zionis tersebut.
Hal ini juga didukung oleh adanya hukum internasional modern produk negara-negara penjajah Barat yang justru melegalkan penjajahan melalui istilah ‘migrasi sukarela’. Sebagaimana diketahui, rencana pengusiran rakyat Palestina bergantung pada persetujuan AS. Artinya, apa yang terjadi di Gaza, Palestina adalah proyek kolonial yang disponsori oleh kekuatan global, bukan entitas berdaulat independent. AS adalah gembong dari kebiadaban Zionis, dan selamanya akan menjadi kekuatan besar selama perisai umat Islam tidak diwujudkan.
Mewujudkan Perisai Umat, Solusi Darurat Selamatkan Gaza
Saat tidak ada upaya nyata yang mampu menghentikan kebiadaban Zionis Israel dan kekuatan besar Amerika Serikat. Di saat pemimpin negeri-negeri muslim masih berada dalam kelemahan tak berdaya membawa Palestina pada gerbang kemerdekaan karena mereka masih tercerai berai. Padahal, dengan kondisi yang menimpa palestina, selayaknya kita mengingat dan memahami kembali sabda Rasulullah saw., “Imam (khalifah) adalah perisai, kaum muslim diperangi (oleh musuh) di belakangnya dan dilindungi oleh dirinya.” (HR. Muslim)
Sabda Rasulullah saw. tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan penguasa yang menjadi pelindung umat. Inilah yang dipahami oleh para Khalifah di masa dulu, salah satunya adalah Khalifah Al-Mu’tashim Billah dari Kekhilafahan Abbasiyyah. Ia benar-benar mengamalkan hadis Rasul-Nya. Ia benar-benar menjadi ‘junnah’ (perisai) bagi rakyat.
Saat Khalifah Al-Mu’tashim mendengar kabar telah terjadi penistaan seorang kafir Romawi terhadap Wanita Muslimah. Maka Khalifah segera bergerak mengerahkan pasukannya, memimpin sendiri puluhan ribu pasukan menuju kota Amuriyah. Hal ini dilakukan sebagai wujud perlindungan untuk membela kehormatan muslimah yang telah dilecehkan.
Kaum muslim akan terjaga bahkan saat kondisi lemah sekalipun selama mereka masih memiliki khalifah yang menjadi perisai umat. Khalifah tetap akan berjuang untuk melindungi jiwa dan wilayah kaum muslimin dari ancaman orang-orang kafir. Begitulah yang dilakukan oleh Khalifah Abdul Hamid II saat bapak Zionis Internasional, Theodor Herzl menginginkan tanah Palestina. Theodor Herzl menyadari bahwa tanah tersebut bukanlah tanah tak bertuan. Wilayah itu ada dalam kekuasaan Khilafah Ustmaniah. Maka, dia pun mencoba meminta wilayah itu kepada Khalifah Abdul Hamid II.
Khalifah Abdul Hamid II menolak dengan tegas. Melalui surat beliau untuk Theodor Herzl yang isinya, “Nasihatilah temanmu Herzl agar dia tidak mengambil langkah-langkah baru mengenai masalah ini. Sebab, saya tidak bisa mundur dari tanah suci ini (Palestina) walaupun hanya sejengkal. Sebab, tanah ini bukanlah milik saya. Dia adalah milik bangsa dan rakyat saya. Nenek moyang saya telah berjuang demi mendapatkan tanah ini.”
Dari apa yang telah menimpa umat Islam di Palestina hari ini, ada pesan yang menyeruak di tengah kita. Betapa keberadaan khalifah sebagai perisai umat adalah perkara mendesak yang harus segera kita wujudkan bersama-sama. Ini menjadi kewajiban seluruh kaum muslim seluruh dunia. Gaza memanggil kita, Gaza menunggu ‘Perisai-nya’ yang akan membebaskan dan menyelamatkan tanah mereka, tanah kaum muslim .sedunia. Apakah kita masih menunggu sampai tanah suci itu dirampas paksa oleh Zionis laknatullah? Wallahualam.


