
Suara Pembaca
Banjir merupakan fenomena yang seringkali datang pada saat musim penghujan. Seperti beberapa hari lalu, Kota Medan diguyur hujan deras. Ironisnya, dalam tempo beberapa jam saja telah menjadikan Kota Medan tergenang air di mana-mana.
Sebagai umat Islam, kita yakini bahwa hujan adalah rahmat dari Allah Subhanahu wa Taala, namun dalam sistem kapitalisme sekuler seperti saat ini menjadi bencana banjir. Dampak banjir pun akhirnya menimbulkan kemacetan di beberapa titik jalan yang tergenang banjir. Ruas jalan tersebut diantaranya adalah Jalan Gatot Subroto kota Medan, Tanjung Sari, Nibung raya, dan beberapa ruas jalan di kota Medan lainnya.
Sebagaimana pantauan Tribun Medan sejumlah ruas jalan terjadi banjir akibat hujan deras dalam beberapa jam saja. Seperti jalan Gatot Subroto kota Medan, imam Bonjol, Tanjung Sari, Nibung raya dan beberapa ruas jalan lainnya. Meskipun terjadi banjir para pengendara tetap menerobos banjir tersebut, mengakibatkan mogok dan macet. PLT Kepala Badan Penanggulangan Banjir Daerah (BPDB) Yunita Sari mengatakan pihaknya akan terus memantau (27/8).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendefinisikan bahwa banjir adalah peristiwa berlimpahnya air hujan karena tempat resapan air sangat minim, pada dasarnya volume curah hujan tetap sama namun daya tampung drainase sangat minim, akhirnya air pun meluap ke jalan, bahkan ke pemukiman penduduk. Jelas banjir tersebut adalah banjir genangan air hujan, karena kedalaman nya mencapai lutut kaki orang dewasa. Dan ini terus berulang setiap tahunnya, dan menunjukkan gagalnya tata kelola ruang yang dilakukan oleh pemangku kebijakan.
Seharusnya dalam pengelolaan lahan memilih pengelolaan lahan, dan memilih area lahan yang diperuntukkan untuk daerah industri, lalu untuk pusat perbelanjaan, perkantoran, perumahan, termasuk mana area yang diperuntukkan sebagai daerah resapan (recharge area) sehingga tercipta keseimbangan ekologis. Seperti di wilayah Johor kota Medan sendiri banyak resapan air sudah beralih fungsi menjadi perumahan, wajar saja jika genangan air hujan menjadi overload. Alhasil, kerakusan para oligarki yang di naungi hukum menjadikan menjamurnya perumahan elit, pusat perbelanjaan, pertokoan serta apartemen-apartemen menjadi pencakar langit kota Medan.
Akhirnya, rakyatlah yang merasakan dampak dari pembangunan ala kapitalistik tersebut, karena lahan resapan air sudah sangat berkurang ditambah lagi drainase overload jika terjadi hujan berkepanjangan. Artinya, banjir dan kerusakan lingkungan adalah akibat ulah manusia yang rakus . Sistem kapitalisme terbukti melahirkan manusia yang serakah dalam mengelola lahan, karena azas dari kapitalisme adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya, akhirnya rakyatlah yang menanggung penderitaan dan kerusakan.
Berbeda jauh dengan sistem Islam, karena Islam memandang bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah Subhanahu wa Taala, termasuk tanah. Tidak akan ada penguasaan lahan atas segelintir orang. Pembangunan akan diatur sedemikian rupa agar tidak menyebabkan banjir. Tidak akan ada pembangunan liar dan brutal yang mengabaikan hak manusia didalamnya. Hanya sistem Islamlah yang manusiakan manusia, dan sudah seharusnya umat diatur oleh aturan Islam.
Ross A.R, Aktivis Muslimah Medan Johor


