
Oleh: Elok Fidelia
Linimasanews.id—Kasus keterlibatan pelajar dalam peredaran narkoba kembali mencuat dan menyesakkan dada. Di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, aparat kepolisian mengamankan dua individu berinisial SH (26) dan KF yang masih berstatus pelajar. Keduanya diduga hendak mengedarkan sabu-sabu yang disembunyikan di dalam tanah di sekitar rumah mereka (detik.com, 2/4/2026). Sebelumnya di Kendari, Sulawesi Tenggara, seorang pelajar berinisial HS (19) juga ditangkap dengan barang bukti puluhan paket sabu-sabu yang tersebar di beberapa lokasi (Suarasultra.com, 31/3/2026).
Rentetan peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, namun sinyal keras bahwa ada yang keliru dalam sistem yang membentuk dan menjaga generasi muda hari ini. Ketika seorang pelajar yang seharusnya berada dalam fase menuntut ilmu dan membangun masa depan justru terjerat dalam jaringan peredaran narkoba, maka persoalannya tidak bisa hanya dibebankan pada individu semata.
Dalam perspektif Islam, manusia terutama generasi muda harus dijaga akal, jiwa, dan perilakunya. Namun, realitas yang ada menunjukkan bahwa sistem sekuler yang diterapkan saat ini cenderung memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, nilai-nilai spiritual yang seharusnya menjadi benteng diri, justru makin terkikis. Pelajar tumbuh tanpa fondasi keimanan yang kuat, sehingga mudah goyah saat dihadapkan pada godaan materi dan lingkungan yang rusak.
Tidak hanya itu, lemahnya sistem pendidikan turut memperparah keadaan. Pendidikan hari ini lebih menitikberatkan pada aspek akademik dan capaian materi, sering kali abai dalam pembinaan akidah dan membentuk kepribadian serta moral. Padahal, ilmu tanpa landasan iman hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara akhlak.
Di sisi lain, penegakan hukum yang belum memberikan efek jera juga membuka celah bagi peredaran narkoba untuk terus menyasar kelompok rentan, termasuk pelajar.
Islam menawarkan solusi yang menyeluruh dalam membangun dan menjaga generasi. Sistem pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pembentukan kepribadian yang berlandaskan akidah Islam. Tujuannya jelas, yaitu melahirkan individu yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga mampu memberikan kontribusi kebaikan bagi masyarakat.
Peran keluarga juga tidak dapat diabaikan. Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini, sekaligus menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang hangat, pengawasan yang bijak, serta komunikasi yang terbuka menjadi kunci agar anak tidak mencari pelarian di luar rumah.
Selain itu, masyarakat memiliki andil dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang generasi. Budaya saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran perlu dihidupkan kembali, sehingga pelajar tidak merasa sendirian dalam menjaga dirinya dari pengaruh buruk.
Pada akhirnya, negara memegang peran strategis dalam menutup rapat celah kerusakan ini. Penegakan hukum yang tegas dan konsisten terhadap pelaku penyalahguna narkoba, baik produsen, pengedar, maupun pengguna menjadi langkah penting untuk memberikan efek jera dan melindungi masyarakat secara luas.
Kasus pelajar yang terlibat dalam peredaran sabu-sabu seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Ini bukan hanya tentang pelanggaran hukum, tetapi tentang kegagalan sistem dalam menjaga amanah terbesar, yaitu generasi muda. Sudah saatnya kita kembali menata arah, menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi agar lahir generasi yang kuat iman, kokoh akhlak, dan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.


