
Oleh. Eni Yulika, S.Pd.
Linimasanews.id—Nilai tukar dolar tidak terkendali. Baru kali ini harga dolar menyentuh kenaikan yang cukup tinggi. Dikutip dari Bisnis.com (05/06/26), pada awal Juni nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat mencapai Rp18.000 per dolar AS.
Alhasil, industri elektronik dan teknologi terdampak karena sejumlah bahan baku, seperti bahan baku smartphone, bahan untuk merakit laptop dan komputer, mobil, motor, harus impor. Begitu juga alat kesehatan dan obat-obatan, banyak yang harus diimpor bahan bakunya. Belum lagi, produk makanan yang menjadi bahan wajib bagi kebutuhan sehari-hari, seperti gandum, kedelai, gula mentah, susu, dan masih banyak lagi.
Kondisi dolar yang terus meningkat ini akan sangat berpengaruh terhadap sektor riil. Jika dolar naik, biaya impor barang menjadi lebih mahal sehingga masyarakat juga harus membeli produk olahannya dengan harga lebih mahal. Di tengah kesulitan hidup dan sulitnya lapangan pekerjaan, beban masyarakat pasti akan bertambah.
Sikap Muslim
Viral di media sosial pembahasan yang mengaitkan antara kenaikan dolar dengan konsep rezeki. Ada yang mengatakan, “Dolar naik, rezeki jadi berkurang? Emang dolarkah yang ngasih rezeki? Bukan lah. Allah Maha Kaya-lah yang kasih rezeki. Jangan sibuk nyalahin pemerintah terus, sibuklah salahin diri sendiri karena kurang tauhidnya, kurang tawakkalnya.”
Dalam hal ini, umat Islam seolah menjadi serba salah. Di satu sisi turut merasakan beratnya beban hidup seiring dengan naiknya dolar, di sisi lain seakan tidak boleh mengeluh karena rezeki telah diatur oleh Allah sehingga yang terpenting ialah meningkatkan tawakal.
Lalu, bagaimana seharusnya seorang muslim mendudukkan persoalan ini? Tentu kita harus berpikir jernih dan cemerlang. Karena jika tidak, pasti tidak akan mendapatkan solusi yang tepat.
Permasalahan ini perlu dipandang dalam tiga hal. Pertama, masalah kenaikan dolar akibat geopolitik internasional yang sedang tidak baik-baik saja. Kedua, masalah kebijakan impor yang menjadi urat nadi penyelesaian kekurangan kebutuhan masyarakat dalam negeri. Ketiga, konsep rezeki dalam perspektif Islam.
Masalah pertama, hal ini karena saat ini dunia dikuasai oleh negara adidaya berideologi kapitalisme. Amerika Serikat kini menguasai dunia. Dalam perdagangan internasional, dolar AS menjadi mata uang standar dalam ekspor dan impor. AS juga mengambil bahan mentah (minyak bumi, emas, bahan tambang lain) dari negara berkembang, lalu mereka olah dan jual kembali ke negara berkembang dengan menggunakan dolar.
Selain itu, banyak negara yang menyimpan uang dalam bentuk dolar untuk menjaga stabilitas mata uang lokal dan untuk membayar utang serta biaya ekspor maupun impor.
Masalah kedua, impor yang menjadi urat nadi penyelesaian kekurangan dalam negeri menjadi pertanyaan besar. Sebab, negeri ini memiliki sumber daya yang mumpuni. Jika dikembangkan dengan benar, pasti bisa mandiri dan tidak harus impor.
Ketiga, masalah konsep rezeki, dalam Islam, rezeki adalah sesuatu yang memang tidak bisa dijengkali. Pernyataan rezeki itu sudah diatur oleh Allah adalah benar. Semua makhluk yang bernyawa telah sudah ditetapkan rezekinya dan pasti cukup dengan ketersediaan kekayaan di muka bumi. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan persoalan kenaikan dolar, tetaplah kebijakan pemerintah yang menyebabkan hal itu harus dikritisi. Sebab, kebijakan yang keliru bisa menzalimi masyarakat.
Konsep Islam
Kesepakatan dunia dalam persoalan uang kertas menjadikan nilai dolar lebih tinggi dan dijadikan standar pembayaran sah. Nilai tukar mata uang suatu negara (misalnya rupiah) bisa menjadi sangat lemah bahkan tidak bernilai ketika dolar mengalami kenaikan. Konsep ini tidaklah adil.
Sebenarnya, mata uang yang sesuai dengan konsep keadilan pernah diterapkan di masa kejayaan Islam. Inilah sistem yang dicontohkan oleh baginda Muhammad saw. Mata uang yang sesuai standar Islam ialah Bukan seperti mata uang kertas yang tidak stabil, dinar-dirham stabil dan tidak menzalimi siapa pun.
Begitu pula, dalam sistem Islam, impor bukanlah hal utama yang harus dipilih. Malah, ketika itu mematikan usaha dalam negeri, mematikan petani dan potensi sumber daya manusia di dalam negeri, kebijakan itu tidak akan dilakukan. Karena, kesejahteraan rakyat menjadi pertimbangan utama bagi penguasa.
Dalam Islam, penguasa ibarat penggembala. Bukan hanya fasilitator dan pelaksana aturan, tetapi bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan warganya. Selain itu, penjagaan terhadap harta, nyawa, keamanan, kesehatan, keturunan menjadi hal utama yang tidak bisa diabaikan.
Jika kembali kepada aturan Allah (sistem Islam), maka penguasa akan berpedoman pada halal-haram. Bukan mengikuti konsep untung rugi ala kapitalis. Kebijakan penguasa akan berpihak kepada rakyat, bukan berpihak kepada pemilik modal.
Karena itu, umat Islam tidak cukup hanya bersembunyi di balik konsep rezeki, lalu membiarkan kelalaian negara dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Rezeki memang sudah diatur. Tetapi jika kebijakan salah negara dibiarkan, rakyat juga pasti akan sengsara. Jadi, konsep rezeki itu memang pasti, tetapi amar makruf kepada penguasa juga wajib. Keduanya sama-sama harus dilaksanakan agar kehidupan berjalan dengan meraih keberkahan.


