
Oleh: adv. Satya Widarma, S.H., M. Hum.
Linimasanews.id—Banyak rumah tangga tampak bergerak, tetapi sesungguhnya tidak sedang bertumbuh. Ayah berangkat pagi dan pulang malam dengan keyakinan bahwa tugasnya selesai ketika uangnya dibawa pulang. Ibu menjalani pengasuhan tanpa pengetahuan, dukungan, dan pembagian tanggung jawab yang memadai. Anak kemudian masuk ke sekolah dengan pola yang serupa: jadwal, tugas, ujian, dan kelulusan. Semua sibuk, tetapi tidak selalu ada kepemimpinan yang menghubungkan pekerjaan, pengasuhan, pendidikan, dan kekuatan ekonomi keluarga.
Masalah ini bukan semata-mata kelemahan individu. Ia menunjukkan kegagalan kebijakan dalam memahami keluarga sebagai institusi pembentuk manusia. Ketika kebijakan ketenagakerjaan hanya mengejar penyerapan kerja, pendidikan mengejar capaian akademik, dan program keluarga berupa penyuluhan sesaat, setiap sektor berjalan sendiri. Akibatnya, orang tua bekerja tanpa cukup hadir, ibu dituntut mengasuh tanpa dipersiapkan, anak bersekolah tanpa membaca realitas, dan keluarga mencari uang tanpa membangun kemampuan ekonomi.
Bekerja Bukan Sekadar Membawa Uang
Pada Februari 2026, Indonesia memiliki 147,67 juta penduduk yang bekerja. Namun, sekitar 87,74 juta orang bekerja di sektor informal, sedangkan rata-rata upah buruh hanya Rp3,29 juta per bulan (Badan Pusat Statistik, 2026). Tekanan ekonomi itu nyata.
Namun, kepemimpinan keluarga tidak identik dengan menjadi mesin pendapatan. Menafkahi merupakan tanggung jawab penting, tetapi kepemimpinan juga mencakup menetapkan arah, hadir dalam keputusan, melindungi pasangan, memahami perkembangan anak, memberi teladan, dan membangun kemampuan menghadapi perubahan.
Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa konflik pekerjaan-keluarga pada ayah maupun ibu berkaitan dengan meningkatnya persoalan anak dalam sekolah, pertemanan, dan kesehatan. Dampaknya dipengaruhi pula oleh kondisi ekonomi serta kualitas hubungan pasangan (Chai & Schieman, 2022). Ayah yang hanya hadir sebagai pencari nafkah membuat anak tidak mengindra kepemimpinan sebagai pemeliharaan. Studi di lingkungan berdaya terbatas juga menunjukkan bahwa dukungan ayah kepada ibu dan keterlibatan dalam keputusan rumah tangga berhubungan positif dengan perkembangan anak, sebagian melalui kesejahteraan dan perilaku pengasuhan ibu (Garcia et al., 2022).
Mengasuh Tidak Otomatis Dikuasai
Kesalahan berikutnya adalah menganggap setiap perempuan otomatis memahami pengasuhan setelah menjadi ibu. Keibuan merupakan kedudukan penting, tetapi kompetensi tetap harus dipelajari. Ibu perlu memahami tahap perkembangan, komunikasi, regulasi emosi, stimulasi, disiplin tanpa kekerasan, kesehatan, keamanan digital, dan kebutuhan unik anak.
Tanpa pengetahuan itu, pengasuhan mudah ditentukan oleh kebiasaan turun-temurun, tekanan emosi, konten media sosial, atau nasihat yang tidak teruji. Masalah membesar ketika ayah menyerahkan urusan anak kepada ibu, sementara ibu sendiri lelah dan tidak mempunyai dukungan.
Uji terkontrol pada keluarga rentan menunjukkan bahwa program pengembangan anak usia dini dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik pengasuhan (Li et al., 2022). Kualitas pengasuhan bukan takdir; ia dapat dibentuk melalui kebijakan terstruktur. Negara dan komunitas tidak cukup menyuruh orang tua menjadi baik, tetapi harus membangun kapasitas mereka.
Rutinitas yang Kehilangan Arah
Rutinitas dibutuhkan anak karena memberi struktur dan rasa aman. Penelitian menunjukkan bahwa rutinitas konsisten dapat menjadi penghubung antara kualitas relasi orang tua dan kesiapan sekolah (Ren et al., 2022). Masalahnya bukan rutinitas, melainkan rutinitas tanpa tujuan.
Anak bangun, sekolah, mengerjakan tugas, mengikuti les, lalu kembali ke layar. Ia mengetahui definisi kerja, kemiskinan, kewirausahaan, keluarga, dan tanggung jawab, tetapi tidak melihat bagaimana semuanya bekerja dalam kehidupan. Sekolah mempersiapkan ujian, bukan perubahan ekonomi dan sosial.
PISA 2022 menunjukkan hanya sekitar seperempat siswa Indonesia mencapai tingkat minimum kecakapan membaca, yakni kemampuan menggunakan informasi untuk memahami persoalan (OECD, 2022). Pendidikan berbasis tempat menawarkan koreksi dengan menjadikan lingkungan sosial, budaya, ekonomi, dan ekologis sebagai sumber belajar (Yemini et al., 2025).
Anak perlu dilibatkan sesuai usia dalam membaca anggaran keluarga, membedakan kebutuhan dan keinginan, mengamati usaha lokal, mengenali masalah masyarakat, dan menyusun solusi. Tanpa itu, sekolah hanya memperpanjang ketergantungan.
Mengapa Kekuatan Ekonomi Gagal Terbentuk
Keluarga sering mengajarkan anak mencari uang, tetapi tidak mengajarkan anak mengelola harta, membangun keterampilan produktif, menilai risiko, bekerja sama, membaca peluang, dan menjaga tujuan penggunaan kekayaan. Aktivitas ekonomi dipersempit menjadi memperoleh pendapatan, bukan memenuhi kebutuhan secara bermartabat dan membangun daya tahan.
Indeks literasi keuangan Indonesia pada 2024 sebesar 65,43 persen, sedangkan inklusi mencapai 75,02 persen. Literasi keuangan syariah hanya 39,11 persen dan inklusinya 12,88 persen (Otoritas Jasa Keuangan, 2024). Akses produk keuangan tidak otomatis menghasilkan keputusan sehat.
Penelitian menunjukkan bahwa pengamatan terhadap perilaku finansial orang tua berhubungan dengan kesejahteraan finansial orang dewasa muda, dengan kemampuan finansial sebagai penghubungnya. Sekolah, media, dan teman tidak menunjukkan hubungan sekuat teladan orang tua dalam studi tersebut (Pak et al., 2024). Bila anak hanya melihat orang tua bekerja, berutang, membayar tagihan, dan mengeluh tanpa dialog serta perencanaan, yang diwariskan bukan kekuatan ekonomi, melainkan kecemasan.
Kegagalan Kebijakan yang Terfragmentasi
Kebijakan cenderung memisahkan persoalan yang membentuk satu rantai. Kebijakan kerja membahas upah dan kesempatan kerja; kebijakan keluarga membahas ketahanan rumah tangga; pendidikan membahas kurikulum; dan kebijakan keuangan membahas literasi serta inklusi. Padahal, keluarga mengalami semuanya sekaligus.
Pertumbuhan ekonomi atau banyaknya penduduk yang bekerja tidak cukup apabila kebutuhan primer tiap keluarga tidak terpenuhi dan kemampuan ekonominya tidak tumbuh. Ukuran keberhasilan harus berpindah dari angka agregat menuju keadaan manusia: apakah pangan, sandang, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan kemampuan produktifnya terjamin.
Negara juga tidak boleh menyelesaikan semua masalah dengan sanksi. Ketidakmampuan mengasuh karena tidak pernah memperoleh pengetahuan tentang kekerasan atau penelantaran. Kemiskinan berbeda dari pengabaian nafkah oleh orang yang mampu. Kebijakan harus mendahulukan kapasitas dan perlindungan; penegakan hukum diarahkan secara proporsional kepada pelanggaran yang benar-benar merugikan.
Inovasi Kebijakan Berbasis Kapabilitas Keluarga
Indonesia membutuhkan kebijakan terpadu berbasis kapabilitas keluarga;
Pertama, pendidikan pranikah dan pengasuhan harus diubah dari ceramah normatif menjadi pelatihan praktis bagi laki-laki dan perempuan: kepemimpinan pemeliharaan, pembagian tanggung jawab, perkembangan anak, komunikasi, konflik, dan ekonomi rumah tangga.
Kedua, kebijakan ketenagakerjaan perlu menilai kualitas waktu keluarga. Jam kerja yang dapat diprediksi, cuti pengasuhan, perlindungan pendapatan, dan fleksibilitas harus dirancang agar ayah terlibat, bukan memindahkan seluruh pengasuhan kepada ibu.
Ketiga, sekolah perlu menerapkan pembelajaran berbasis realitas. Literasi finansial, proyek usaha, pemetaan masalah lingkungan, pelayanan masyarakat, dan refleksi etis harus berintegrasi dengan pelajaran.
Keempat, pemberdayaan ekonomi keluarga harus menggabungkan jaminan kebutuhan dasar, keterampilan produktif, pendampingan usaha, akses pasar, pengelolaan keuangan, dan evaluasi keberlanjutan. Kredit tanpa kemampuan hanya memindahkan keluarga ke dalam jebakan utang.
Kelima, indikator keberhasilan harus mengukur kehadiran ayah, kompetensi pengasuhan, kualitas relasi pasangan, kemampuan anak membaca realitas, ketahanan terhadap guncangan, serta peningkatan aset produktif keluarga.
Penutup
Keluarga tidak menjadi kuat hanya karena semua anggotanya sibuk. Kesibukan tanpa arah dapat menghasilkan ayah yang kehilangan fungsi kepemimpinan, ibu yang memikul pengasuhan tanpa pengetahuan, anak yang patuh pada rutinitas tetapi lemah menghadapi realitas, dan rumah tangga yang terus bekerja tanpa membangun kekuatan ekonomi.
Krisis ini merupakan persoalan kepemimpinan dan inovasi kebijakan. Pemimpin keluarga harus hadir lebih luas daripada pencari uang. Ibu tidak boleh dibiarkan belajar mengasuh melalui kesalahan yang mahal. Sekolah tidak cukup mengisi kepala anak tanpa mempertemukannya dengan kehidupan. Negara pun tidak boleh puas dengan pertumbuhan ekonomi ketika keluarga tetap rapuh.
Generasi kuat lahir ketika rumah menjadi tempat pertama anak mengindra kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, dan pengelolaan ekonomi. Tanpa itu, rutinitas hanya mewariskan rutinitas, sementara kerapuhan berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2026). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,68 persen. Rata-rata upah buruh sebesar 3,29 juta rupiah. – Badan Pusat Statistik. Badan Pusat Statistik (BPS – Statistics Indonesia). https://www.bps.go.id/assets/pressrelease/2026/05/05/2574/tingkat-pengangguran-terbuka
Chai, Lei, & Schieman, Scott. (2022). Work-to-Family Conflict and Children’s Problems with School, Friends, and Health: Household Economic Conditions and Couple Relationship Quality as Contingencies. Journal of Family Issues, 43(6), 1555–1578. https://doi.org/10.1177/0192513X211026953
Garcia, I. L., Fernald, L. C. H., Aboud, F. E., Otieno, R., Alu, E., & Luoto, J. E. (2022). Father involvement and early child development in a low-resource setting. Social Science & Medicine, 302, 114933. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2022.114933
Li, Y., Li, S., Tang, L., & Bai, Y. (2022). The effect of ECD program on the caregiver’s parenting knowledge, attitudes, and practices: based on a cluster-randomized controlled trial in economically vulnerable areas of China. BMC Public Health, 22(1), 1958. https://doi.org/10.1186/s12889-022-14268-5
OECD. (2022). PISA 2022 Results (Volume I and II) ‑ Country Notes: Indonesia | OECD. https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html
Otoritas Jasa Keuangan. (2024, Oktober 17). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024. Otoritas Jasa Keuangan. https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi/Pages/Survei-Nasional-Literasi-dan-Inklusi-Keuangan-(SNLIK)-2024.aspx
Pak, T.-Y., Fan, L., & Chatterjee, S. (2024). Financial socialization and financial well-being in early adulthood: The mediating role of financial capability. Family Relations, 73(3), 1664–1685. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/fare.12959
Ren, L., Boise, C., & Cheung, R. Y. M. (2022). Consistent routines matter: Child routines mediated the association between interparental functioning and school readiness. Early Childhood Research Quarterly, 61, 145–157. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.ecresq.2022.07.002
Yemini, M., Engel, L., & Ben Simon, A. (2025). Place-based education – a systematic review of literature. Educational Review, 77(2), 640–660. https://doi.org/10.1080/00131911.2023.2177260


