
Oleh: Dini Azra
Linimasanews.id—Dalam cerita fiksi baik film maupun novel, penulis sering membangun karakter tokoh utama atau villain-nya dari backstory yang kelam di masa kecil sehingga menimbulkan trauma mendalam dalam hidupnya untuk mendukung kekuatan cerita. Begitupun di dunia nyata, seseorang yang mengalami suatu peristiwa tragis yang menyakitkan di masa lalu akan memiliki trauma dalam dirinya sehingga mempengaruhi mental dan kepribadiannya di masa depan. Hari ini pun banyak orang yang mudah merasa lelah menjalani hidup dan memilih menyerah. Padahal, segala macam jenis trauma yang mungkin dialami manusia, semuanya ada di Gaza, Palestina.
Bagi anak-anak Gaza, trauma itu terjadi bukan hanya di masa lalu, tetapi setiap hari mereka alami. Bahkan, tidak terlihat tanda kapan rasa sakit dan kehilangan itu akan berhenti. Mereka tidak punya pilihan, tidak punya tempat bersandar untuk meredakan rasa takut walau sebentar. Bayangkan, sejak mereka lahir dan mulai melihat dunia, yang ada hanya kehancuran dan kengerian akibat penjajahan terlama dan terkejam di dunia.
Mereka tumbuh di antara reruntuhan, kehilangan orang tua, teman-teman dan tetangga. Bisa jadi hari ini, besok atau lusa, ajal mereka pun tiba. Hanya iman yang tertanam sejak dinilah yang menjadi benteng pertahanan sekaligus harapan akan keadilan Tuhan. Maka tidak heran jika hari ini ada kesaksian dari seorang psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk yang mengatakan bahwa setiap anak di Gaza mengalami trauma.
Lebih dari satu juta anak mengalami trauma yang parah. Salah satu dampak dari trauma tersebut menyebabkan sebagian anak-anak Gaza kehilangan kemampuan bicara. Karena begitu hebatnya rasa trauma yang dialami, mereka memilih diam sebagai respons atas kondisi yang ada (Kompas.com., 30/5/2026).
Penderitaan yang dialami anak-anak Gaza ini adalah dampak dari kekejaman entitas Zionis Yahudi yang terus-menerus melancarkan serangannya. Enam bulan sejak gencatan senjata diumumkan, dengan alasan membela diri, pasukan Israel terus saja menyerang, membunuh dan menghancurkan apa saja yang tersisa. Hal ini karena memang tujuan mereka adalah genosida, menghancurkan secara total, fisik dan mental seluruh penduduk Gaza, tak terkecuali anak-anak dan bangunan. Mereka bermaksud menguasai Gaza seluruhnya. Jadi, sebelum keinginan itu tercapai, mereka tidak akan berhenti.
Diam
Dunia melihat penderitaan penduduk beserta anak-anak Gaza yang tak berdosa. Namun, tidak ada tindakan tegas yang mampu menghentikan kekejian Zionis yang kian bengis. Berbagai kecaman, usaha perundingan di mahkamah internasional dan badan dunia seperti PBB pun hanya menghasilkan keputusan yang tak bisa direalisasikan. Sebab, kesombongan Israel yang merasa tak terkalahkan terus disokong oleh sekutunya, Amerika Serikat, pemilik hak veto di forum PBB. Karenanya, semua keputusan yang berpihak pada Palestina dan menyalahkan Israel bisa dimentahkan. Begitupun gencatan senjata yang digadang-gadang sebagai solusi, ternyata ilusi yang berlaku hanya sehari.
Dunia hari ini hanya menggalang donasi, menunjukkan solidaritas lewat berbagai aksi demonstrasi, hingga menyalurkan bantuan kemanusiaan. Itu pun masih dihalangi oleh Zionis Yahudi yang memblokade jalur bantuan ke wilayah Gaza. Bahkan, mereka mencegat dan menangkap aktivis kemanusiaan yang berusaha masuk melalui jalur laut internasional.
Sementara itu, para pemimpin muslim bergeming. Alih-alih beraliansi untuk membantu mengusir penjajah dari bumi Palestina, mereka malah bergabung dengan Board of Peace yang dibentuk oleh Amerika Serikat dan ada Israel juga di dalamnya sebagai anggota. Mereka diminta menjaga perdamaian di Gaza dengan menjadikan Hamas sebagai musuh bersama, sedangkan Israel harus dijamin keamanannya.
Perisai Umat
Beginilah kondisi umat Islam sesudah kehilangan perisai yang melindunginya, yaitu Khilafah Islamiyah. Dahulu, selemah-lemahnya kondisi Daulah Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Sultan Hamid ll, beliau dengan tegas menolak tawaran Inggris yang hendak membeli wilayah Palestina untuk diberikan kepada bangsa Yahudi. Namun, begitu khilafah runtuh, para sekutu Barat segera mengatur agar kaum Zionis Israil yang tak memiliki wilayah itu bisa mendirikan sebuah negara di tanah Palestina.
Hingga hari ini, belum ada yang mampu membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah Israel. Maka dari itu kemerdekaan Palestina hanya akan terwujud dengan perjuangan jihad fii sabilillah oleh seluruh Muslim. Hanya dengan jihad, penderitaan yang dialami warga Gaza, terutama anak-anak yang mengalami trauma parah bisa diakhiri. Yakni, dengan cara mengusir entitas Zionis Yahudi dan menghapus penjajahan di bumi Palestina.
Tanpa adanya komando dari seorang pemimpin muslim, hal itu mustahil terjadi. Sebab, kondisi kaum muslimin hari ini sedang terpecah-pecah menjadi berbagai negara kesatuan. Masing-masing terikat oleh nasionalisme serta kepentingan yang mengharuskan mereka tunduk pada arahan kafir Barat, khususnya Amerika Serikat sekutu zionis Yahudi itu sendiri.
Inilah yang menjadi alasan bagi seluruh umat Islam untuk memperjuangkan kembali tegaknya Khilafah Islamiyah. Ini bukan hanya nostalgia masa lalu bagi orang-orang yang rindu akan kejayaan Islam. Akan tetapi, hanya dengan persatuan kaum muslimin di bawah satu kepemimpinan absolut-lah jihad fi sabilillah bisa ditegakkan dan merebut kembali kemerdekaan Palestina dari tangan penjajah.
Umat Islam harus dibangkitkan kesadarannya bahwa dengan tegaknya Khilafah marwah umat akan terjaga, tidak akan ada lagi bangsa asing yang berani menginjak-injak kaum muslim dan menduduki wilayahnya. Sebab, dalam sistem Islam, seluruh urusan kenegaraan akan diatur dengan landasan akidah Islam. Tidak hanya masalah ekonomi, pendidikan, dan sosial budaya saja, tetapi urusan politik dalam dan luar negeri juga diatur secara independen tanpa bergantung pada negara lain.
Dengan kemandirian, kekuatan militer dan ekonomi, Khalifah bisa melakukan manuver kekuatan terhadap negara lain, sehingga mereka pun segan dan tak akan berani mengusik kehidupan kaum muslim ataupun non-muslim di bawah naungan Khilafah. Kemenangan kaum muslimin dengan tegaknya Khilafah Islamiyah ini bukanlah angan-angan kosong, melainkan merupakan janji Allah dan rasul-Nya yang wajib diimani dan diperjuangkan oleh seluruh umat Islam.


