
Oleh: Rindang Ayu P., S.Pd.
Linimasanews.id—Pemberitaan tentang Palestina terasa makin redup di ruang publik. Di tengah arus informasi global yang begitu deras, tragedi kemanusiaan di Gaza seolah perlahan tenggelam. Padahal, di saat yang sama, penderitaan rakyat Palestina tidak pernah benar-benar berhenti, bahkan kian memburuk.
Serangan demi serangan terus dilancarkan ke Gaza tanpa mengindahkan gencatan senjata. Di Tepi Barat, ribuan unit permukiman ilegal terus diperluas, menggerus tanah Palestina hingga mencapai sekitar 70 persen. Lebih menyakitkan lagi, pengibaran bendera Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa menjadi simbol yang jelas bahwa penjajahan ini bukan sekadar konflik wilayah, tetapi upaya penguasaan atas salah satu situs suci umat Islam.
Fakta-fakta ini bukan berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari satu agenda besar yang telah lama dirancang, yaitu ambisi membangun “Israel Raya”. Dalam kerangka ini, penghancuran Gaza, ekspansi permukiman, hingga berbagai tindakan yang mengarah pada genosida bukanlah kebetulan, melainkan strategi sistematis.
Apa yang terjadi hari ini bukan hanya konflik geopolitik biasa. Ini adalah bentuk kebiadaban modern, yaitu kejahatan kemanusiaan yang terpampang nyata di depan mata dunia. Ironisnya, kekejaman ini tidak berlangsung dalam ruang hampa. Dukungan dari kekuatan besar dunia, khususnya Amerika Serikat, justru menjadi bahan bakar yang mempercepat realisasi ambisi tersebut. Bahkan, berbagai tekanan terus diarahkan kepada negeri-negeri Muslim untuk menerima “solusi dua negara” yang pada praktiknya justru melegitimasi perampasan yang telah terjadi.
Di sisi lain, penderitaan Palestina yang tak kunjung usai juga mencerminkan problem yang lebih dalam, yaitu lemahnya persatuan umat Islam dan sikap para penguasa negeri Muslim yang cenderung kompromistis. Alih-alih menjadi pelindung, sebagian justru terjebak dalam kepentingan politik dan tekanan global.
Padahal, dalam ajaran Islam, kezaliman semacam ini tidak boleh dibiarkan. Allah Swt. berfirman, “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak …” (QS. An-Nisa: 75)
Ayat ini bukan sekadar seruan spiritual, tetapi juga penegasan tanggung jawab kolektif umat untuk melawan penindasan.
Karena itu, melawan ambisi Israel Raya tidak cukup dengan kecaman atau solidaritas simbolik. Ia membutuhkan kekuatan nyata, yaitu kekuatan yang lahir dari persatuan umat Islam yang hakiki. Dalam perspektif ideologis Islam, persatuan ini bukan sekadar wacana, melainkan terwujud dalam institusi politik yang menyatukan umat yang disebut dengan Khilafah.
Dalam sistem Khilafah, umat Islam tidak terpecah oleh batas-batas nasionalisme yang sempit. Seluruh potensi umat, baik militer, ekonomi, dan politik, dikelola secara terpusat untuk melindungi kepentingan umat, termasuk membebaskan wilayah yang terjajah. Khalifah sebagai pemimpin memiliki tanggung jawab langsung untuk mengirimkan kekuatan militer guna menghentikan agresi dan membebaskan tanah yang dirampas.
Lebih dari itu, Khilafah juga akan mengakhiri praktik pengkhianatan politik yang lahir dari ketergantungan terhadap kekuatan asing. Kebijakan luar negeri tidak lagi didikte oleh kepentingan global, melainkan berlandaskan pada syariat dan kemaslahatan umat.
Sebagian mungkin menganggap gagasan ini utopis. Namun, sejarah justru menunjukkan bahwa persatuan umat di bawah satu kepemimpinan pernah menjadi realitas yang mampu menjaga kehormatan dan keamanan wilayah Islam, termasuk Palestina.
Hari ini, ketika dunia memilih diam dan pemberitaan mulai memudar, justru di situlah ambisi perampasan berjalan tanpa hambatan. Untuk itu, yang dibutuhkan bukan hanya empati, tetapi kesadaran ideologis, yakni kesadaran bahwa perjuangan Palestina adalah bagian dari perjuangan yang lebih besar. Yaitu, perjuangan melawan kezaliman dan mengembalikan kemuliaan umat. Jika tidak, maka senyapnya dunia hari ini hanya akan menjadi saksi bisu atas hilangnya satu demi satu tanah suci, hingga Al-Aqsa benar-benar lepas dari genggaman umat Islam. Na’udzubillahi min dzaalik.


