
Oleh: Zuliyama, S.Pd. (Relawan Opini)
Linimasanews.id—Berbagai masalah terus meliputi umat Islam sepanjang tahun. Pergaulan bebas, hamil di luar nikah, aborsi, penyalahgunaan narkoba tak jarang muncul jadi problem sosial. Selain itu, kemiskinan struktural, pinjaman online (pinjol), judi online (judol) dan masalah lainnya turut menimpa masyarakat secara umum.
Pada tingkat internasional, genosida atas Palestina masih terus berlangsung. Korban demi korban terus bertambah akibat bom dan senjata. Adapun yang masih hidup, mereka pun harus menahan pedihnya rasa lapar, tanpa tahu kapan perut mereka bisa kembali terisi.
Tahun demi tahun berganti. Bulan Muharram di tahun yang baru telah tiba. Sayangnya, umat masih dihadapkan pada kondisi yang jauh dari predikat khairu ummah (umat terbaik) sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ali Imran: 110.
Memang, saat Allah menyebutkan umat Islam sebagai khairu ummah bukanlah predikat tanpa syarat. Dalam firman-Nya pada QS. Ali Imran:110, Allah Swt. menyebutkan bahwa untuk menjadi umat terbaik, umat Islam harus melakukan amar makruf nahi munkar (menteri kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar), serta beriman kepada Allah dengan menjalankan syariat-Nya.
Sementara saat ini, Islam menjadi agama mayoritas penduduk Tanah Air. Namun sayangnya, seolah hanyalah sekadar agama yang aturannya tak boleh mencampuri urusan kehidupan. Inilah sekularisme. Umat juga menerapkan sistem kapitalisme yang menjadikan manfaat materi sebagai asas perbuatan menggantikan asas halal dan haram. Terkesan normal, tetapi inilah biang masalahnya.
Kerusakan terjadi di semua lini. Pada sistem pergaulan, misalnya, berapa banyak remaja yang rusak moralnya? Seberapa banyak juga anak-anak yang secara otomatis berkata kasar saat sedang marah atau merasa jengkel? Mereka adalah orang-orang yang butuh bimbingan. Sayangnya, media dan lingkungan malah mengarahkan kepada kemaksiatan. Hal ini karena asas manfaat atau materi yang malah dilanggengkan media. Meski merusak, terus produksi selama bisa menghasilkan banyak cuan.
Dalam hal ekonomi, besarnya biaya hidup, kurangnya lapangan kerja, tingginya biaya kesehatan dan pendidikan, serta pajak yang tak kunjung usai, menciptakan tekanan berkepanjangan. Tak jarang, judi online dengan iming-iming keuntungan dan pinjaman online yang menjerat pun menjadi solusi semu yang banyak dipilih masyarakat. Lagi-lagi, ini terjadi karena pelayanan penguasa yang berbasis keuntungan, sehingga fungsi negara tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Sumber daya alam (SDA) kini banyak dikelola oleh swasta dan negara hanya mendapat sebagian hasilnya. Alhasil, sumber daya melimpah, tetapi yang dirasakan masyarakat hanyalah secuil. Pendapatkan negara juga tak memenuhi. Alhasil, bukannya meringankan beban rakyat dengan pendidikan dan kesehatan gratis, misalnya, negara malah mencekik rakyat dengan banyaknya pajak. Maka wajar jika terdapat peribahasa tikus mati di lumbung padi. Itulah realitas saat ini.
Di saat yang sama, kekuatan umat Islam pun lemah di panggung internasional. Ketidakmampuan membela Palestina, misalnya. Ini adalah hasil dari ketiadaan negara Islam. Umat terpecah oleh nasionalisme dan ketundukannya pada kaum kafir.
Padahal dalam Islam, keamanan dan kesejahteraan rakyat menjadi prioritas utama. Banyak catatan sejarah menulis tentang perlindungan pemimpin Islam atas rakyatnya. Di antaranya, kisah seorang wanita muslimah yang jilbabnya disingkap lantas meminta tolong kepada pemimpin Islam saat itu, yaitu Al-Mu’tshim Billah, lali direspons dengan pengiriman ribuan pasukan militer terbaik.
Bangkit
Muharram ini adalah momentum refleksi bahwa seluruh kenestapaan terjadi akibat jauhnya umat dari aturan Allah, bukan semata takdir yang harus diterima. Untuk bangkit darinya, tidak cukup dengan keimanan individu, perbaikan akhlak dan ibadah saja. Melainkan, harus dengan keimanan kolektif dengan penerapan aturan Islam oleh negara.
Dari sini, merupakan tugas kaum muslim untuk memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam yang sebelumnya pernah berkuasa. Allah Ta’ala berfirman: “Serulaah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125)
Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Ayat tersebut menegaskan kewajiban atas kaum muslim untuk berdakwah dan berada dalam jamaah. Itulah langkah perjuangan yang harus iambil umat Islam saat ini. Yaitu, berada dalam jamaah yang terorganisir. Sebab, usaha kaum kafir dalam menghancurkan umat muslim pun terorganisir.


