
Oleh. Eni Yulika
Linimasanews—Kita dikejutkan dengan aktifnya beberapa gunung secara bersamaan. Seperti dikutip dari antaranews.com (07/09/2026), status Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda masih Level III (Siaga) berdasarkan rekomendasi laporan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Pasauran, Deni Mardiono di Pasauran, Anyer, Banten, Senin, mengatakan masyarakat dan pengunjung wisata dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau, karena masih berbahaya.
Status 5 gunung di Indonesia yang bersamaan aktif, membuat banyak penerbangan saat ini dihentikan. Karena tidak memungkinkan. Debu vulkanik yang keluar dari gunung yang aktif seakan marah membuat manusia takut siapapun melihatnya.
Apakah kebetulan atau hanya peristiwa alam biasa. Perlu menjadi pelajaran dan renungan kita bersama. Apakah kita telah membuat alam marah dengan banyaknya dosa yang kita perbuat. Karena setelah bencana banjir bandang akibat hancurya daerah resapan di Sumatra, belum tertangani tuntas sampai hari ini dampak kerusakannya. Berlanjut kasus asap akibat kebakaran hutan yang amat parah di Kalimantan, Riau, Aceh. Sehingga membuat alam rusak dengan segala biodiversitas hewan dan tumbuhan asli wilayah setempat demi kepentingan segelintir orang.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM memberikan status gunung api yang ada di Indonesia dan ternyata banyak yang aktif kembali dan status ke level (III) siaga, karena terjadi pengeluaran abu vulkanik atau erupsi. Diantaranya Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda), Gunung Semeru (Jawa Timur), Gunung Sinabung (Sumatera Utara), Gunung Merapi (DIY/Jawa Tengah), Gunung Lewotobi Laki-Laki (NTT) . Ada 22 gunung api berstatus Level II (Waspada) dan sisanya berada pada tingkat Level I (Normal). PVMBG menegaskan bahwa erupsi yang terjadi pada beberapa gunung dalam waktu berdekatan ini bukan efek domino karena setiap gunung memiliki kantong magma tersendiri.
Gunung api adalah bagian dari komponen penyusun alam, menjadi bagian yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Tetapi dengan aktifnya gunung yang ada di bumi membuat masyarakat tetap waspada. Pihak terkait harus sigap dalam mitigasi bencana. Baik dari sebelum bencana terjadi berupa edukasi dan pencegahan, maupun pasca bencana. Karena di negeri kita banyak bencana yang mengancam seperti banjir, kebakaran hutan, gempa, tsunami dan meletusnya gunung api.
Apa yang menyebabkan bencana terus terjadi. Sebenarnya ada dua faktor utama penyebab bencana, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Setelah diamati banyak bencana yang terjadi adalah karena faktor manusia. Jikalau ada faktor alam, didukung juga faktor manusia yang mendukung menambah besarnya bencana yang terjadi.
Jauh hari, Allah Swt. telah mengingatkan kepada kita dalam surah Ar-Rum ayat 41 dimana telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Dari ayat ini, kita memahami bahwasanya manusia ternyata adalah faktor utama segala kerusakan di bumi. Termasuk hari ini, begitu banyak kerusakan yang terjadi adalah pengingat manusia agar menyadari kesalahannya.
Manusia memang diberikan akal, akal inilah yang seharusnya mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Apalagi dalam islam sudah lengkap aturan untuk menjaga lingkungan dan kehidupan di bumi. Tetapi manusia hari ini memiliki standar kebahagiaan adalah materi. Tidak memakai standar halal dan haram. Akhirnya, demi meraih kebahagiaan berupa materi sebanyak-banyaknya tega merusak alam. Inilah mengapa penting sekali menerapkan hukum Islam. Selain individu yang bertakwa, juga dibutuhkan aturan yang melarang dengan tegas merusak lingkungan.
Di dalam Islam, bencana adalah pertanda Allah sedang mengingatkan kita. Agar kita kembali kepada aturan Allah. Sudah banyak maksiat yang dilakukan. Sebagaimana dulu, Zaman nabi banyak bencana diberikan Allah sebagai azab bagi manusia yang ingkar kepada Allah.
Seperti zaman Nabi Luth, di mana banyak manusia yang berbuat keji, sehingga digoncangkanlah gempa yang sangat dahsyat. Dengan adanya gempa, kaum Nabi Luth tertimbun di dalam perut bumi. Zaman Nabi Nuh, bagaimana air bah yang sangat besar menghancurkan umat manusia.
Di zaman Rasulullah, pernah terjadi juga gempa di Madinah. Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya ke atas tanah sembari berkata, “Tenanglah, belum saatnya engkau datang.”
Setelah itu, beliau menghadap ke arah sahabat-sahabatnya dan bersabda, “Allah sedang menegur kalian. Jawablah teguran-Nya (Buat Allah ridha pada kalian).” Dijelaskan bahwa maksud menjawab teguran Allah ini adalah kita harus bertaubat atas segala kesalahan kita.
Di Madinah, pada masa Umar bin Al-Khattab juga terjadi gempa. Segera Umar memukulkan tongkatnya dan berkata, “Tenanglah. Saya orang yang adil. Jika saya tidak bisa berbuat adil, maka celakalah Umar.” Bumi menjadi tenang dan tidak pernah ada lagi gempa bumi setelah itu.
Ini menunjukkan kepada kita bahwa, meletusnya gunung api hari ini adalah pertanda peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar. Jika kita, tidak bertaubat maka musibah yang lebih dahsyat akan datang, barulah kita menyesal. Menyesal di akhir tiadalah berguna. Apalagi jika hukum islam tidak diterapkan, maka pasti hukum yang diterapkan memungkinkan untuk berubah sesuai siapa yang berkuasa. Jika penguasa berkolaborasi dengan pengusaha. Maka memungkinkan akan mengeluarkan hukum yang berpihak kepada pengusaha. Oleh karena itu, Allah bertanya kepada kita, hukum siapa yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang berakal. Marilah kita sadar. Wallahualam bisawab.


