
Oleh: Evi Faouziah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Aktivis Dakwah)
Linimasanews.id—Setidaknya, 8 juta warga AS ikut demonstrasi yang dikenal sebagai ‘No Kings’ untuk memprotes kebijakan Presiden Donald Trump (cnnindonesia.com, 29/03/26). Gelombang demonstrasi bertajuk “No Kings” yang mengguncang Amerika Serikat bukan sekadar aksi jalanan, tetapi simbol perlawanan ideologis terhadap sistem yang melahirkan “raja-raja baru” dalam balutan demokrasi.
Demokrasi yang diagungkan sebagai sistem tanpa tirani justru melahirkan oligarki kekuasaan segelintir elite yang mengendalikan negara melalui modal, media, dan militer. Rakyat dipanggil atas nama kedaulatan, namun diabaikan dalam penentuan kebijakan strategis. Seruan “No Kings” sejatinya adalah pengakuan jujur bahwa demokrasi telah gagal menyingkirkan tirani ia hanya mengganti bentuknya.
Utang Raksasa: Bukti Kapitalisme Gagal Total
Utang Amerika Serikat yang menembus US$39 triliun bukan sekadar angka ekonomi, melainkan bukti kebangkrutan sistem kapitalisme secara struktural. Kapitalisme berdiri di atas fondasi utang berbasis riba. Negara dipaksa hidup dari defisit, mencetak uang tanpa nilai riil, dan menutupinya dengan ekspansi militer serta dominasi global. Inilah yang menjelaskan mengapa konflik demi konflik terus diproduksi, termasuk keterlibatan dalam kepentingan Israel dan ketegangan dengan Iran.
Ambisi geopolitik yang sering dikaitkan dengan figur seperti Donald Trump hanyalah wajah dari sistem yang memang haus dominasi. Siapa pun pemimpinnya, selama kapitalisme menjadi fondasi, maka ekspansi dan eksploitasi adalah keniscayaan. Kapitalisme tidak sedang “menuju” krisis ia adalah krisis itu sendiri.
Imperialisme Modern dan Kolaborasi Penguasa Muslim
Dominasi Amerika Serikat atas dunia bukan hanya karena kekuatan militernya, tetapi karena keberhasilannya menciptakan ketergantungan politik dan ekonomi di negeri-negeri muslim. Dukungan terhadap penjajahan Israel di Palestina menjadi bukti nyata bahwa nilai “hak asasi manusia” yang mereka gaungkan hanyalah alat politik. Lebih menyakitkan lagi, sebagian penguasa negeri muslim justru berdiri di barisan yang sama memberi legitimasi, membuka kerja sama strategis, bahkan membantu menjaga stabilitas kepentingan Barat di kawasan.
Keadaan ini bukan sekadar kelemahan politik, tetapi bentuk pengkhianatan terhadap umat. Umat dipecah, sumber daya dijarah, dan konflik dipelihara. Semua dilakukan demi menjaga roda kapitalisme global tetap berputar.
Membongkar Akar Masalah
Kesalahan terbesar umat hari ini adalah terus berharap pada pergantian figur, bukan perubahan sistem. Padahal, krisis global, utang, perang, dan ketimpangan lahir dari ideologi kapitalisme itu sendiri. Demokrasi memberi ilusi perubahan melalui pemilu padahal arah kebijakan tetap dikunci oleh kepentingan pemilik modal.
Inilah sebabnya mengapa siapa pun yang berkuasa, kebijakan yang dihasilkan tetap pro-kapital dan anti-rakyat. Allah Swt. telah memperingatkan, “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 50)
Ayat ini menegaskan bahwa meninggalkan hukum Allah dan menggantinya dengan sistem buatan manusia adalah sumber kerusakan. Kapitalisme dan demokrasi bukan solusi, tetapi akar problem.
Khilafah: Jalan Ideologis Mengakhiri Krisis Global
Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah untuk menerapkan syariat secara kaffah, bukan alat akumulasi kekayaan atau dominasi global. Khilafah menawarkan sistem politik yang independen dari kapital, bebas dari riba, dan berorientasi pada keadilan hakiki. Berbeda dengan kapitalisme yang meniscayakan utang dan eksploitasi, sistem ekonomi Islam berbasis kepemilikan yang jelas, distribusi kekayaan yang adil, dan larangan riba secara tegas.
Khilafah juga mempersatukan umat Islam di bawah satu kepemimpinan, mengakhiri fragmentasi politik yang selama ini dimanfaatkan oleh kekuatan asing.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Kemudian akan ada Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)
Hadis ini bukan sekadar kabar gembira, tetapi janji sekaligus arah perjuangan umat.
Dari Krisis Menuju Perubahan Hakiki
Demonstrasi “No Kings”, krisis utang, dan konflik global adalah tanda-tanda keruntuhan sistem yang selama ini dianggap mapan. Amerika Serikat bukan hanya sedang mengalami krisis ekonomi, tetapi krisis legitimasi dan ideologi. Pertanyaannya bukan lagi apakah kapitalisme akan runtuh, tetapi apa yang akan menggantikannya.
Umat Islam memiliki jawaban itu. Islam sebagai ideologi dan Khilafah sebagai institusi politiknya. Namun, jawaban ini tidak akan terwujud tanpa perjuangan sadar, terorganisir, dan ideologis. Saatnya umat keluar dari ilusi demokrasi, membongkar hegemoni kapitalisme, dan bergerak menuju perubahan hakiki tegaknya syariat Islam dalam bingkai Khilafah.


