
Oleh: Irohima
Linimasanews.id—Situasi di Palestina makin mencekam. Wilayah pendudukan Israel di Gaza makin diperluas hingga 50%. Mereka tengah mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali genosida dengan mengurangi kekuatan di Lebanon Selatan dan mengerahkan kembali brigade reguler ke Gaza serta Tepi Barat. Sementara itu, kelompok Hamas menyatakan bahwa militer Israel telah menguasai lebih dari 60% wilayah pesisir Palestina (Antaranews.com, 04/05/2026).
Kebiadaban Israel pun kembali terekspose. Mereka memaksa warga Palestina menggali kembali kuburan dan memindahkannya dengan alasan lokasi kuburan terlalu dekat dengan pemukiman Israel (SindoNews, 10/05/2026). Mengerikan. Dehumanisasi muslim Palestina tidak hanya kepada orang yang masih hidup, tetapi juga kepada orang yang telah wafat.
Sejak Oktober 2023, jumlah masyarakat yang menjadi korban telah mencapai 72.736 tewas dan 172.535 terluka. Banyak korban terpaksa diamputasi, terutama dari kalangan anak-anak. Tercatat juga kematian 300 jurnalis. Kini Gaza menjadi tempat yang paling mematikan.
Hingga detik ini, segala upaya perundingan atau kesepakatan gencatan senjata menjadi sia-sia. Zionis terus saja mengkhianati perjanjian dan menyerang Palestina. Mereka memperluas wilayah pendudukannya dan melakukan genosida agar masyarakat Palestina tidak bersisa. Tindakan mereka sangat brutal dan melewati batas kemanusiaan. Mereka membunuh siapa saja yang mereka temui, tak peduli perempuan, lansia ataupun anak-anak. Mereka bahkan melakukan pembungkaman terhadap pers dengan menargetkan jurnalis sebagai sasaran untuk dibunuh.
Saat ini, dunia dan kaum muslim hanya sebatas memberi kecaman, tanpa melakukan tindakan yang nyata. Padahal, Israel telah banyak melakukan kejahatan. Seharusnya, kita tidak diam.
Kita tahu bahwa akar masalah Gaza sebenarnya adalah keberadaan entitas penjajah zionis di tanah Palestina. Tanah tersebut notabene milik warga Palestina. Karenanya, entitas zionis harus dihapuskan bukan dari muka bumi.
Sayangnya, fakta ini tidak cukup membuat dunia, khususnya penguasa muslim. Lebih dari 50 negeri muslim tidak tergerak untuk melakukan jihad fi sabilillah guna membebaskan Palestina. Semua memilih diam, hanya mencukupkan diri dengan mengecam, dan mengirim bantuan kemanusiaan. Padahal, yang terjadi di Palestina bukan lagi bencana biasa, tetapi genosida.
Inilah sejatinya fakta nasionalisme yang diagungkan dunia. Sekat bangsa ini menjadi aturan yang membatasi kita untuk menolong Palestina, sekalipun keadaan di sana sudah di luar logika. Nasionalisme telah membelenggu para pemimpin negeri muslim. Mereka terjerat oleh berbagai kepentingan politik. Nasionalisme juga telah membunuh rasa persaudaraan dan persatuan yang sejatinya harus dimiliki umat Islam.
Perpecahan umat Islam ini menjadi salah satu faktor penyebab penderitaan Palestina dan negeri muslim tertindas lainnya masih berlangsung hingga kini. Kita menjadi berbeda dalam banyak hal, termasuk menyikapi persoalan Palestina.
Sejatinya, persoalan Palestina membutuhkan ukhuwah Islamiyah (persatuan umat Islam) yang hakiki. Jihad adalah satu-satunya solusi untuk Palestina saat ini. Namun, aktivitas jihad hanya bisa diwujudkan oleh Khilafah yang merupakan institusi pemersatu umat Islam seluruh dunia. Khilafah adalah junnah (pelindung) bagi kaum muslim, yang akan bertanggung jawab atas keselamatan umat Islam sedunia. Hanya Khilafah yang akan mengirimkan tentara tanpa ragu dan tanpa drama perjanjian yang berkepanjangan.
Genosida di Palestina sudah lebih dari cukup menjadi alasan bahwa entitas zionis harus dihapuskan. Hanya Khilafah yang bisa membebaskan Palestina dari zionis penjajah. Khilafah akan mengembalikan tanah Palestina kepada pemiliknya (kaum muslimin), sekaligus me-riayah (mengurusi) rakyat Palestina agar bisa hidup mulia. Maka dari itu, penegakan Khilafah adalah urgen dan mestinya menjadi agenda utama umat Islam saat ini.


