
Oleh: Nur Afni (Pemerhati Sospol-Deli Serdang)
Linimasanews.id—Konflik yang terus terjadi antara Iran dan Amerika Serikat, telah mengakibatkan goncangan global terhadap pasokan minyak di berbagai negara. Iran melakukan pembatasan Selat Hormuz yang termasuk jalur pelayaran internasional paling strategis di dunia. Selat Hormuz merupakan jalur distribusi energi yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Banyak negara yang terdampak, salah satunya Indonesia. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri dinilai sebagai konsekuensi dari meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. Ekonom dari Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo menjelaskan bahwa konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, serta potensi gangguan di jalur strategis Selat Hormuz, mulai memberi tekanan pada pasar energi global.
Sebelumnya, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa tidak ada kenaikan harga BBM bersubsidi sesuai dengan arahan dari Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, harga BBM masih tetap stabil (31/3/2026). Namun untuk BBM nonsubsidi, masih dalam pembahasan lebih lanjut antara Pertamina dan pihak swasta (bbcnews.com, 6/4/2026).
Sementara itu, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh dari kata stabil. Dilansir bbcnews.com, anteran panjang kendaraan terjadi hampir merata di semua stasiun pengisian bahan bakar minyak di Kota Makassar, Surabaya, dan wilayah lain di Sulawesi Selatan. Warga khawatir kehabisan bahan bakar di tengah isu kenaikan harga BBM, meski Pertamina memastikan stoknya tetap aman. Bahkan, mereka rela tidak tidur untuk mendapatkan solar. Berbagai jenis kendaraan terlihat membludak dan menyerbu stasiun pengisian BBM. Mobil maupun motor mengantre demi mendapatkan BBM.
Di tengah kondisi ini, masyarakat sepatutnya bertanya, benarkah pasokan energi di negara ini sedang baik-baik saja? Pemerintah saat ini seolah dalam dilema. Jika harga BBM naik, maka akan berdampak langsung pada masyarakat, seperti, inflasi, daya beli masyarakat yang menurun, biaya transportasi naik, harga-harga kebutuhan pokok meningkat, dan potensi gejolak sosial juga ikut meningkat. Namun, jika harga BBM diupayakan untuk tetap stabil, maka APBN negara akan defisit.
Indonesia sebagai negara importir minyak, mengakibatkan ketergantungan pada pasokan luar negeri, sehingga mengakibatkan energi domestik sangat rentan dengan adanya konflik global yang sedang terjadi. Dengan melihat realitas ini, gonjang-ganjing BBM yang terjadi bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bukti lemahnya sistem yang ada, yakni sistem kapitalisme sekulerisme. Sistem yang berasaskan pada pemisahan agama dari kehidupan inilah yang menempatkan sumber daya alam, seperti bahan bakar energi sebagai komoditas yang diperdagangkan demi keuntungan materi, bukan sebagai kebutuhan publik yang merupakan kewajiban negara terhadap rakyatnya.
Ditambah lagi, mekanisme pasar bebas membuat harga BBM bergantung pada spekulasi, geo politik, dan kepentingan koorporasi besar dengan negara luar. Indonesia yang merupakan negara berkembang yang saat ini berada dalam kondisi lemah. Sebab, negara tidak memiliki kontrol penuh atas rantai pasok energi. Indonesia selama ini hanya bergantung pada impor, fluktuasi nilai tukar, dan sebagainya, sehingga rakyat senantiasa menjadi pihak yang paling terdampak dan selalu menanggung imbasnya.
Situasi ini sejatinya menggambarkan rapuhnya ekonomi di dalam sistem kapitalisme sekuler karena negara senantiasa bergantung pada impor komoditas strategis. Negara di dalam sistem kapitalisme sekuler ini tidak mampu untuk mengelola sumber daya alam yang ada. Akibatnya, ketika terjadi konflik global, selalu berimbas langsung pada ekonomi masyarakat, rakyatlah yang senantiasa menanggung beban, baik kesulitan akses maupun kenaikan harga BBM.
Dalam Islam, sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak, merupakan kepemilikan umum dan secara mutlak dikuasai oleh negara dan tidak boleh diprivatisasi oleh asing maupun lokal, bahkan penguasa sekalipun. Rasulullah saw. bersabda, “Manusia berserikat dalam tiga perkara, yakni api, Padang rumput, dan air.” (HR Abu Dawud)
Dalam Islam, pengelolaan sumber daya alam termasuk energi seperti BBM, tidak boleh bergantung pada kekuatan global tetapi sepenuhnya menjadi kewajiban seorang khalifah. Islam juga memberikan solusi, yakni persatuan negeri-negeri kaum muslim dalam satu kepemimpinan yaitu khilafah. Dengan persatuan negeri-negeri muslim, potensi sumber daya alam, termasuk minyak di kawasan Timur Tengah akan dikelola secara kolektif oleh seorang khalifah dan didistribusikan ke seluruh wilayah untuk seluruh masyarakat, baik muslim, maupun non muslim. Dengan begitu, tidak ada lagi ketergantungan dengan pasar global.
Selama ketergantungan dengan negara luar menjadi fondasi negara, maka krisis akan terus berulang. Alhasil, kemandirian yang diterapkan dalam sistem Islam, tanpa bergantung pada negara luar, akan menciptakan politik dan ekonomi yang stabil secara nyata.
Hanya ada satu solusi hakiki untuk seluruh problematika kehidupan umat saat ini, yakni dengan menegakkan kembali sistem Islam di muka bumi ini. Karena sejatinya, pemimpin adalah pengurus urusan rakyat (raa’in) dan junnah (pelindung). Pemimpin wajib memberikan rasa aman dan memberikan sebuah kepastian terhadap rakyatnya. Pemimpin yang bertakwa dan siap menjalankan amanah kepemimpinannya sesuai dengan syariat Allah Swt. ini hanya akan kita dapati dengan menerapkan sistem yang berasal dari Sang Pencipta, yakni sistem Islam.


