
Oleh: Nabilah Rohadatul ‘Aisy
Linimasanews.id—Tahun ajaran baru semestinya menjadi momen yang menggembirakan bagi setiap sekolah. Namun, pemandangan berbeda justru terjadi di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di berbagai daerah. Ada sekolah yang hanya menerima beberapa murid baru, bahkan ada pula yang sama sekali tidak memperoleh peserta didik. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan sekolah-sekolah negeri tersebut. Pemerintah pun menawarkan solusi berupa regrouping atau penggabungan beberapa SD negeri agar operasional sekolah tetap berjalan (CNNIndonesia.com, 15/7/26).
Meski demikian, kebijakan regrouping bukan tanpa persoalan. Penggabungan sekolah dapat membuat jarak tempuh siswa menjadi lebih jauh, terutama bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan atau wilayah terpencil. Di sisi lain, kebijakan ini sesungguhnya belum menyentuh akar persoalan penyebab masyarakat makin enggan menyekolahkan anaknya di sebagian SD negeri.
Memang harus diakui, perubahan struktur demografi menjadi salah satu penyebab berkurangnya jumlah murid. Angka kelahiran yang terus menurun menyebabkan populasi anak usia sekolah makin sedikit. Fenomena ini terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut di berbagai wilayah. Selain itu, urbanisasi membuat banyak keluarga muda berpindah ke kota sehingga desa-desa kehilangan kelompok usia produktif beserta anak-anak mereka.
Perubahan tersebut tidak lahir begitu saja. Sulitnya memperoleh kesejahteraan akibat kebijakan ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat membuat biaya membangun keluarga makin mahal. Harga kebutuhan pokok terus meningkat, biaya pendidikan dan kesehatan tidak ringan, sementara lapangan pekerjaan yang layak semakin terbatas. Akibatnya, banyak pasangan muda memilih menunda memiliki anak atau membatasi jumlah keturunan karena alasan ekonomi. Persoalan ini menunjukkan bahwa kebijakan di bidang ekonomi ternyata ikut memengaruhi kondisi pendidikan.
Namun demikian, jika dicermati lebih jauh, terdapat faktor lain yang justru lebih menarik perhatian. Banyak orang tua kini secara sadar lebih memilih sekolah swasta yang memiliki ciri khas pendidikan agama. Mereka rela membayar biaya yang tidak sedikit asalkan anak-anak memperoleh pembiasaan salat berjamaah, belajar membaca dan menghapal Al-Qur’an, mendapatkan pendidikan akhlak, serta tumbuh dalam lingkungan yang dianggap lebih kondusif bagi pembentukan karakter Islami.
Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Kekhawatiran orang tua terhadap masa depan generasi makin besar seiring meningkatnya berbagai bentuk kerusakan moral di kalangan pelajar. Kasus perundungan, tawuran, penyalahgunaan narkoba, pornografi, pergaulan bebas, kekerasan seksual, hingga tindak kriminal yang melibatkan anak usia sekolah hampir setiap hari menghiasi pemberitaan. Belum lagi derasnya pengaruh media sosial yang menghadirkan berbagai konten negatif tanpa batas.
Dalam kondisi seperti ini, wajar apabila banyak orang tua memandang pendidikan agama bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama. Mereka berharap sekolah dapat menjadi benteng yang menjaga akidah, akhlak, dan perilaku anak-anak di tengah derasnya arus kerusakan zaman.
Pilihan masyarakat tersebut sesungguhnya merupakan kritik yang sangat jelas terhadap sistem pendidikan saat ini. Masyarakat menginginkan sekolah yang tidak hanya menghasilkan anak-anak cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik. Sayangnya, harapan tersebut sulit diwujudkan selama pendidikan masih dibangun di atas paradigma sekuler.
Sistem sekuler memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, agama hanya ditempatkan sebagai salah satu mata pelajaran, bukan sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan secara keseluruhan. Tujuan pendidikan akhirnya lebih diarahkan untuk mencetak sumber daya manusia yang siap memasuki dunia kerja, memenuhi kebutuhan industri, dan mengejar prestasi akademik. Sementara itu, pembentukan kepribadian Islam tidak menjadi orientasi utama.
Hal itu menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukan semata-mata terletak pada isi kurikulum atau metode mengajar, melainkan pada paradigma yang melandasinya. Selama sistem sekuler liberal tetap menjadi fondasi kehidupan, pendidikan akan terus berhadapan dengan budaya kebebasan yang menjadikan hawa nafsu sebagai ukuran perilaku. Akibatnya, sekolah harus bekerja keras memperbaiki karakter peserta didik, sementara lingkungan sosial justru memproduksi berbagai bentuk penyimpangan setiap hari.
Perspektif Islam
Islam memiliki pandangan yang berbeda mengenai pendidikan. Dalam Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus pilar utama dalam membangun peradaban. Karena itu, negara tidak boleh melepaskan tanggung jawabnya kepada mekanisme pasar atau menyerahkannya kepada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Negara wajib menjamin setiap anak memperoleh pendidikan berkualitas secara gratis dan merata.
Dalam sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah, kurikulum pendidikan dibangun berdasarkan akidah Islam. Akidah tidak hanya diajarkan sebagai materi pelajaran, tetapi menjadi landasan seluruh proses pendidikan. Dengan demikian, seluruh disiplin ilmu diarahkan untuk membentuk manusia yang berkepribadian Islam sekaligus memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi.
Negara juga bertanggung jawab menyediakan tenaga pendidik yang berkualitas, membangun sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, mengembangkan riset, serta memastikan seluruh wilayah memperoleh akses pendidikan yang sama baiknya. Pendidikan tidak dijadikan komoditas, tetapi dipandang sebagai kewajiban negara dalam membina generasi.
Karena itu, fenomena berpindahnya masyarakat ke sekolah berbasis agama hendaknya tidak berhenti pada upaya menyelamatkan anak masing-masing. Kesadaran umat perlu ditingkatkan bahwa kerusakan generasi hari ini bukanlah sekadar akibat lemahnya pengawasan keluarga atau kurang baiknya sekolah tertentu. Semua itu merupakan dampak sistemis dari penerapan sistem sekuler liberal yang menjauhkan aturan Allah Swt. dari kehidupan.
Krisis murid di sejumlah SD negeri pada akhirnya bukan sekadar persoalan menurunnya angka peserta didik. Fenomena ini merupakan sinyal bahwa masyarakat sedang mencari sistem pendidikan yang mampu menjaga agama, akhlak, sekaligus masa depan anak-anak mereka.
Selama akar persoalannya belum disentuh, berbagai solusi teknis hanya akan menjadi jalan sementara. Sebaliknya, ketika pendidikan dibangun di atas akidah Islam dan didukung oleh negara yang menerapkan syariat secara menyeluruh, pendidikan tidak hanya akan melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang bertakwa, berkepribadian Islam, serta siap membangun peradaban yang mulia.


