
Suara Pembaca
Gencatan senjata dan BoP ditawarkan sebagai solusi perdamaian untuk Gaza. Nyatanya, pelanggaran gencatan senjata berulang kali dilakukan oleh Zionis Israel. Gedung di dekat pemakaman Zeitoun hancur setelah diserang rudal Zionis Israel. Tidak ada korban jiwa karena warga sudah dievakuasi sebelumnya. Zionis Israel menyebut serangan itu sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas (6/2/2026).
Zionis Israel masih melakukan serangan ke Gaza meskipun sudah setuju untuk gencatan senjata. Serangan udara Zionis Israel menghantam kamp di Khan Younis, Gaza, dan menewaskan 21 orang, termasuk 6 anak dan bayi berusia 5 bulan. Ini menunjukkan bahwa Zionis Israel tidak menghormati kesepakatan gencatan senjata. Dunia internasional mengecam keras serangan ini (5/2/2026).
Serangan Zionis Israel ke Gaza terus meningkat, membuat situasi kemanusiaan semakin buruk. Palang Merah Palestina melaporkan bahwa Israel membatalkan koordinasi untuk kelompok ketiga pasien Palestina yang akan meninggalkan Jalur Gaza melalui penyeberangan Rafah. Ini adalah contoh terbaru dari bagaimana konflik ini memperburuk kondisi warga sipil.
Sejak gencatan senjata diterapkan pada Oktober lalu, pasukan Zionis Israel telah membunuh lebih dari 520 warga Palestina. Namun, angka ini jauh lebih rendah dari total korban jiwa sejak agresi Israel ke Gaza dimulai pada Oktober 2023, yaitu lebih dari 70.000 warga Palestina tewas dan jutaan lainnya terpaksa mengungsi (5/2/2026).
Dunia terlalu naif, percaya pada janji-janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS. Faktanya, Zionis Israel berulang kali sengaja melanggar perjanjian. Gencatan senjata dan BoP hanyalah sandiwara AS-Ziois Israel untuk melanggengkan penjajahan di Palestina.
Penguasa negeri-negeri muslim tak punya nyali untuk melawan negara penjajah sekelas Zionis dan AS dengan alasan menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang semakin luas. Mirisnya, mereka ikut bergabung dalam BoP. Sementara genosida di Gaza tidak bisa dihentikan hanya dengan duduk bersama para penguasa dunia di satu meja, apalagi jika gagasan ini tercetus dari sekutu utama Zionis.
Terlepas dari dukungan mereka atas narasi solusi dua negara yang sebenarnya bermasalah dan tak kunjung usai, sikap penolakan ormas dan tokoh Islam sudah benar. Keterlibatan para penguasa muslim dalam rancangan solusi dua negara adalah suatu bentuk kemungkaran dan kezaliman yang sangat besar. Seharusnya mereka jadi garda terdepan dalam amar makruf nahi mungkar, muhasabah lil hukkam dengan apa pun risikonya.
Seharusnya, ulama dan tokoh umat mempunyai peran krusial dalam penjagaan syariat sekaligus sebagai pemberi nasihat terhasap para penguasa muslim. Bagaimanapun, peran ulama dan tokoh umat, terkhusus di Indonesia, adalah orang-orang yang mempunyai wawasan tinggi dan berilmu dibandingkan dengan kebanyakan umat. Mereka ibarat bintang dalam kehidupan yang menavigasi umat menuju arah hidup sesuai syariat. Mereka yang diamanahi ilmu dan wawasan janganlah bersikap lemah di hadapan penguasa, apalagi jadi bagian stempel kezaliman yang nyata.
Sikap umat harus tegas; tidak ada toleransi terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan AS- Zionis Israel. Kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan sangat dibutuhkan untuk melawan hegemoni penjajah kafir. Umat dan penguasa muslim seharusnya melakukan jihad serta mendorong penyatuan negeri-negeri muslim di bawah naungan sistem Islam berasaskan hukum Islam sesuai Al-Qur’an dan sunnah.
Sungguh miris dengan kondisi umat saat ini. Umat jauh dari kata ideal akibat tidak diterapkannya hukum-hukum Allah. Di tengah mereka, terjadi kemunkaran yang besar, memisahkan agama dari kehidupan, dan mengambil sebagian hanya karena ada manfaat di sana. Umat Islam benar-benar kehilangan semangat untuk bangkit dari keterpurukan. Dahulu, Islam berada dalam masa digdaya selama 13 abad dengan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Apakah sudah tidak ada kerinduan akan masa peradaban itu, hidup dalam naungan sistem Islam? Jadikanlah kerinduan ini modal untuk bangkit berjuang bersama mewujudkan kembali sistem Islam dalam kehidupan serta mewujudkan tatanan politik yang manusiawi sehingga tidak ada lagi penjajahan di muka bumi ini dan mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.
Yuli Yana Nurhasanah


