
Oleh: Dini Azra
Linimasanews.id—Menyampaikan aspirasi lewat hastag masih menjadi pilihan bagi rakyat yang berharap suaranya didengar penguasa. Belum genap setahun peringatan melalui hastag #IndonesiaDarurat, dengan simbol logo garuda berlatar biru, sekarang logo serupa muncul dengan latar belakang warna hitam. Hastag yang dinaikkan adalah tagar #IndonesiaGelap. Menggambarkan kegundahan masyarakat yang kian pesimis melihat kondisi negeri yang tak karuan. Sebelumnya juga sempat mencuat tagar #KaburAjaDulu yang menjadi ungkapan kekecewaan para generasi muda yang sulit menemukan pekerjaan dan masa depan di negaranya sendiri.
Isu yang diangkat melalui tagar #IndonesiaGelap ini terkait beberapa kebijakan pemerintah yang mengundang kontroversi akhir-akhir ini. Termasuk soal kisruh LPG 3 kg yang sempat langka, kasus pagar laut yang tak kunjung selesai, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tak jelas prioritasnya, efisiensi anggaran untuk program sosial terhadap kesejahteraan rakyat, masalah pendidikan, kesehatan serta lapangan pekerjaan.
Aksi ini tidak hanya bergema di media sosial saja. Namun juga menggerakkan aksi demo yang serentak dilakukan di lebih dari 10 wilayah. Mahasiswa mulai dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Tulang Buwang (UTB) Lampung, hingga Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin (UNISKA) akan menggelar aksi massa bertajuk Indonesia Gelap, Senin (17/2/2025).
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI misalnya, menyatakan ada lima tuntutan yang akan diusung dalam aksi mereka. Diantaranya mencabut Instruksi Presiden (Inpres) No 1Tahun 2025 karena menetapkan pemangkasan anggaran yang tidak berpihak pada rakyat. Mencabut pasal dalam Rancangan Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batubara (RUU Minerba) yang memungkinkan perguruan tinggi mengelola tambang guna menjaga independensi akademik.
Selain itu BEM UI juga mendesak pemerintah mencairkan tunjangan dosen dan tenaga kependidikan tanpa hambatan birokrasi dan pemotongan yang merugikan. Kemudian mengevaluasi program MBG secara total dan mengeluarkannya dari anggaran pendidikan, serta berhenti membuat kebijakan publik tanpa didasari riset ilmiah dan tidak berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (tirto.id, (18/2/2025).
Di luar gerakan mahasiswa yang menggelar aksi di berbagai kota, tagar #IndonesiaGelap turut menggerakkan masyarakat yang memiliki kesadaran atas situasi politik yang tak kunjung membaik. Bergantinya pemimpin diharapkan akan mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik, tapi ternyata tidak jauh berbeda dengan pemimpin sebelumnya. Sejak awal pemerintahan Prabowo-Gibran, rakyat sudah dikagetkan dengan rencana kenaikan PPN 12% walaupun akhirnya dibatalkan setelah mendapat banyak penolakan.
Program MBG yang dipaksakan menjadi program prioritas, faktanya tidak berjalan mulus dari masalah anggaran hingga pelaksanaannya. Kasus pagar laut yang seolah tidak bertuan, karena penyelesaiannya cukup dengan mencabut pagar dan hanya menjadikan tersangka perantara, bukan aktor utama. Ditambah kelangkaan gas akibat kebijakan yang tergesa-gesa. Semua itu membuat masyarakat kecewa.
Di samping itu, arogansi penguasa yang ditampilkan di ruang publik juga membuat masyarakat geram. Misalnya, saat menanggapi ramainya tagar #KaburAjaDulu, Wakil Menteri Emanuel Ebenezer malah berseloroh, “Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi!”. Pada saat berpidato di acara puncak HUT Partai Gerindra di Sentul, Bogor (15/2), Presiden Prabowo Subianto melontarkan kata “ ndasmu,” yang berarti “kepalamu” dalam bahasa Jawa. Kata yang dianggap kasar itu ditujukan pada pihak yang mengkritisi kabinet pemerintahannya yang gemuk juga program MBG. Selain itu, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan juga merespons kritik masyarakat lewat tagar #IndonesiaGelap dengan mengatakan, “Kau yang gelap, bukan Indonesia!” (VoaIndonesia.com, 26/2/2025).
Hal tersebut menjadi indikasi kemunduran komunikasi politik para pejabat negara. Buruk nian attitude pejabat dalam menanggapi kritikan masyarakat. Ekspresi keresahan rakyat dibalas dengan ejekan, bukannya mengevaluasi kinerja untuk perbaikan.
Rakyat merasakan kondisi Indonesia semakin gelap, sebab tidak lagi menemukan kepemimpinan yang mementingkan hajat hidup mereka. Saat rakyat merasakan hidup makin sulit, elite penguasa malah menambah staff khusus dengan gaji selangit. Sementara itu, kebijakan efisiensi anggaran hanya berdampak pada layanan publik seperti pembangunan, kesehatan, pendidikan sehingga dikhawatirkan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Sedangkan, pemerintah dan jajarannya tidak terdampak atas efisiensi anggaran ini.
Bangkit Kesadaran
Sebenarnya, maraknya tagar #IndonesiaGelap ini menunjukkan bangkitnya kesadaran politik masyarakat terutama mahasiswa akan pentingnya bersuara, menyampaikan kritik dan nasihat terhadap penguasa sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi negeri yang tidak baik-baik saja. Selain itu, mengingatkan penguasa akan tugasnya dalam mengurus rakyat dengan pengurusan yang benar, adalah bagian amar ma’ruf nahi mungkar.
Namun, sayang masyarakat belum memahami akar masalah yang sebenarnya. Indonesia gelap bukan karena faktor sosok pemimpin dan beberapa kebijakan saja. Akan tetapi, karena menerapkan sistem kapitalisme-sekuler yang berasal dari peradaban Barat yang gelap dan merusak.
Percuma saja masyarakat dan mahasiswa menuntut agar pemerintah membuat kebijakan pro rakyat jika masih dalam bingkai sistem demokrasi. Sebab, demokrasi itu sendiri adalah sumber masalahnya. Demokrasi hanya menjadikan rakyat sebagai alat meraih kekuasaan. Rakyat seolah yang berdaulat, padahal untuk melayani kebutuhan rakyat saja diserahkan kepada pengelolaan pihak swasta.
Sementara, negara hanya menjadi regulator yang yang membuat peraturan yang justru lebih berpihak pada kepentingan oligarki. Rakyat harus bekerja keras membiayai hidupnya sendiri, sekaligus membiayai kehidupan para penguasa lewat pajak yang dibayarnya. Selama demokrasi diterapkan, bukan hanya Indonesia yang gelap, tetapi seluruh dunia juga gelap gulita karena mengikuti sistem buatan manusia.
Umat perlu disadarkan untuk mewujudkan perubahan hakiki dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Yaitu, hanyalah dengan sistem Islam, sistem kepemimpinan yang lahir dari ajaran Islam yang bertujuan untuk mengurus umat manusia berdasarkan aturan Islam.
Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam jika diterapkan secara keseluruhan. Sebab, Islam agama yang lengkap dan paripurna untuk memecahkan berbagai problematika kehidupan. Bukan hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh alam. Hanya saja, butuh perjuangan untuk membentuk kesadaran, pemikiran yang mengubah pemahaman umat agar bisa bangkit dari keterpurukan.
Dengan adanya kelompok dakwah yang terus menyerukan ideologi Islam, ketika saatnya tiba, perjuangan itu disambut dengan tangan terbuka oleh seluruh umat yang telah bangkit pemahamannya dan mau bersama-sama menegakkan sistem Islam secara keseluruhan.


