
Oleh: Irohima
Linimasanews.id—Diam kini menjadi bahasa baru anak-anak Gaza. Di balik reruntuhan perang, di dalam sesaknya tenda pengungsian, ribuan anak-anak masih hidup. Dada mereka masih naik turun, namun suara mereka hilang. Psikolog menyebutnya selective mutism, yakni trauma yang mengunci kata. Bukan mati, bukan pula bisu, hanya diam dan napas mereka adalah satu-satunya suara yang tersisa. Diamnya mereka adalah respons atas penderitaan yang luar biasa akibat kekerasan, kehancuran, kematian, dan kebiadaban Zionis.
Perang telah merobek masa depan mereka, mengubah tawa anak-anak Gaza menjadi diam, mengubah senyum mereka menjadi kesedihan serta mengubah hari-hari menjadi kelam. Psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk mengatakan bahwa tidak ada satu anak pun di Gaza yang tidak mengalami trauma. Terdapat lebih dari satu juta anak yang telah menderita trauma parah di tengah kondisi yang penuh dengan ketidakpastian. Setiap hari mereka terpaksa berlari mencari perlindungan. Mereka tak hanya kehilangan rumah, namun juga keluarga, teman dan orang-orang terdekat.
Sebagian besar anak mengatakan pada Katrin bahwa mereka membantu menemukan sisa-sisa tubuh manusia yang tercecer di jalan. Itu merupakan trauma yang sangat ekstrem. Hilangnya rasa aman membuat anak-anak mengalami tekanan yang sangat besar. Reaksi dari tekanan tersebut berbeda-beda. Ada anak yang gelisah, susah tidur, hingga berteriak, ada juga yang bereaksi dengan membisu sepenuhnya, dan menarik diri dari dunia yang tidak berhenti membuat mereka terluka dan menderita. Jadi, diam bukan pilihan yang disadari, melainkan respons neurologis terhadap stres dan trauma ekstrem (detiknews, 30/05/2026).
Derita dalam sunyi yang dialami anak=anak Gaza hingga mereka kehilangan kemampuan berbicara adalah dampak dari kejahatan entitas Zionis yang terus berupaya menghancurkan Gaza, dengan tak henti melakukan serangan. Skenario genosida yang mereka lakukan memang ditujukan untuk menghancurkan fisik dan mental masyarakat Gaza. Karena, perang tak hanya berdampak pada kehancuran infrastruktur dan kerugian materi saja, tetapi juga menimbulkan trauma mendalam.
Masyarakat Gaza kini seolah berhenti berharap pada manusia. Karena, hingga kini dunia tak mampu menghentikan kejahatan Zionis. Apalagi berharap pada penguasa-penguasa negeri muslim, mereka saat ini justru melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim Palestina.
Bukan bermaksud mengecilkan berbagai bantuan kemanusiaan yang datang, tetapi Palestina membutuhkan lebih dari itu. Mereka butuh pasukan untuk membebaskan mereka. Meski umat muslim kini berjumlah miliaran, tetapi lihatlah, seperti anak ayam yang kehilangan induknya! Umat kini kehilangan perisai yang melindungi, yakni Khilafah. Umat Islam tercerai-berai, berseberangan pendapat, dan terbuai oleh ikatan nasionalisme yang menjadikannya hilang empati terhadap saudara sendiri, dan terjebak pada aturan batas wilayah yang tak boleh dilewati.
Derita rakyat Palestina, khususnya anak-anak harus segera diakhiri. Bukan sekadar diterapi, tetapi negeri mereka juga harus dibebaskan dari penjajahan Zionis Israel. Kebebasan mereka sejatinya hanya bisa diraih hanya dengan melakukan jihad fi sabilillah dengan mengirimkan pasukan.
Selama ini dunia telah melihat bahwa perundingan dan perjanjian apa pun, termasuk gencatan senjata, tidak satu pun pernah berhasil menghentikan kebiadaban Zionis. Mereka malah kerap melakukan pelanggaran secara terang-terangan. Mirisnya lagi, respons penguasa negeri Muslim hanyalah sebatas kecaman juga bantuan kemanusiaan. Banyak juga pemimpin memilih diam demi mengamankan kepentingannya.
Pengiriman pasukan hanya bisa dilakukan oleh Khilafah, sebuah institusi negara yang berasaskan akidah Islam dan menerapkan syariat secara kafah. Khilafah akan menaungi seluruh umat Islam di dunia dan melindungi umat muslim dari berbagai ancaman, kejahatan, dan segala bentuk kezaliman apalagi penjajahan.
Saat ini kondisi umat Islam dunia benar-benar berada pada titik terendah. Dipermainkan, dijajah, dan diadu domba, sementara banyak dari umat Islam yang justru tidak menyadarinya. Maka dari itu, Khilafah adalah sebuah kebutuhan yang harus segera direalisasikan. Sebab, hanya khilafah yang akan menyelamatkan dan membebaskan umat Islam dari segala bentuk penjajahan.
Karena Khilafah merupakan satu-satunya solusi, maka wajib bagi umat Islam untuk memiliki kesadaran akan pentingnya penegakan Khilafah. Selain itu juga harus berupaya memahamkan umat akan pentingnya persatuan di bawah naungan Khilafah, melalui dakwah yang tak henti dilakukan. Hanya dengan Khilafah, rakyat Palestina dan umat muslim di belahan bumi lain yang terjajah akan merdeka. Dengan Khilafah juga, tak kan ada lagi anak-anak yang lupa cara bersuara dan bahagia, tak kan ada lagi masa depan yang dirobek paksa, dan tak kan ada lagi trauma yang menghantui kehidupannya.


