
Oleh: Nurmilati
(Aktivis Muslimah Bogor)
Linimasanews.id—Alun-alun Kota Bogor. Ya, siapa yang tak kenal dengan area hijau yang letaknya strategis karena dekat dengan stasiun kereta api dan Masjid Agung Bogor. Semenjak diresmikan kembali pada 17 Desember 2021, Alun-alun ini menjadi tempat favorit warga Bogor sebagai ruang publik terbuka yang ramah keluarga, pusat interaksi sosial, serta sarana rekreasi yang murah-meriah bagi masyarakat.
Keberadaannya yang mudah diakses, membuat alun-alun Kota Bogor tak pernah sepi dari pengunjung, baik di hari biasa, akhir pekan maupun di saat liburan. Namun belakangan, tempat yang dulu dikenal dengan Taman Topi ini mulai banyak dikeluhkan warga. Bau pesing menyengat tepat di depan tulisan Alun-alun Kota Bogor membuat pengunjung merasa terganggu kenyamanannya (1/9/2026).
Merespons laporan masyarakat, Kepala Bidang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor, Ratu Vivi Silviani mengatakan bahwa jajarannya sudah membersihkan area tersebut dengan melakukan penyemprotan, pemasangan pagar, papan imbauan, dan memasang CCTV. Akan tetapi katanya, beberapa hari kemudian, bau pesing kembali tercium.
Disinyalir, mereka yang membuang air kecil sembarangan adalah pedagang, pengamen, gelandangan, dan orang yang mabuk. Warga yang kerap melihat tindakan tersebut mengatakan, mereka melakukan itu pada malam hari saat pengunjung tak terlalu ramai dan kemungkinan karena lampu penerangan kurang terang sehingga pelaku merasa leluasa melakukan tindakan yang tak pantas.
Belum diketahui secara pasti mengapa orang-orang itu melakukan hal demikian. Padahal, area alun-alun dilengkapi dengan fasilitas toilet umum. Salah satunya dekat akses keluar menuju Stasiun Bogor. Namun, kapasitas dan kondisinya masih menjadi catatan penting. Jumlah bilik toilet tergolong sedikit dibandingkan dengan jumlah pengunjung, sehingga acapkali terjadi antrean panjang saat akhir pekan atau hari libur. Dari sisi kebersihan, toilet umum terkadang cepat kotor dan kurang terjaga kebersihannya. Selain itu, fasilitas pendukung seperti pintu atau perlengkapan toilet mengalami kerusakan dan minim perawatan, ditambah lagi kurangnya pengawasan dari tenaga kebersihan.
Dua hal yang akhirnya bertemu pada satu titik, yaitu fasilitas yang tak sebanding dengan jumlah pengunjung dan kesadaran yang belum tumbuh merata, memunculkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab mengotori ikon Kota Hujan ini dengan bau pesing. Fasilitas toilet umum yang minim, membuat pengunjung enggan untuk antre. Di sisi lain, minimnya kesadaran akan kebersihan diri dan kebersihan tempat umum yang harus diperhatikan dan dijaga, membuat seseorang melakukan tindakan yang merugikan banyak orang bahkan menimbulkan dosa bagi dirinya.
Membuang air kecil sembarangan, apalagi di tempat umum termasuk kemaksiatan karena ada hal yang ia abaikan. Sebut saja dari sisi kesucian diri. Air kencing yang tidak dibersihkan dengan air suci akan menyisakan najis, sehingga ia terhalang untuk melakukan ibadah, misalkan shalat. Sementara dari sisi kesehatan, sisa urin yang tak dibersihkan akan memicu bakteri berkembang biak dan meningkatkan risiko infeksi saluran kemih.
Masalah di Dua Tangan
Apabila akar masalahnya ada pada fasilitas dan kesadaran seseorang, maka kunci penyelesaiannya pun ada di dua tangan itu, yaitu tangan pemerintah yang memfasilitasi dan tangan warga yang menjaga.
Pemerintah Kota Bogor wajib menghadirkan fasilitas publik yang layak. Menambah jumlah bilik toilet umum, memastikan kebersihannya, memperbaiki penunjang yang rusak, menambah lampu penerangan, serta menyediakan petugas kebersihan yang siaga, merupakan langkah nyata yang bisa segera dilakukan.
Selain itu, CCTV yang sudah dipasang perlu benar-benar difungsikan untuk menindak pelanggar, bukan hanya sebagai hiasan. Edukasi juga harus dilakukan lewat spanduk, pengeras suara, hingga kerja sama dengan tokoh agama supaya pesan “menjaga kebersihan adalah bagian dari iman” sampai ke hati masyarakat.
Selain adanya upaya dari pemerintah, setiap individu juga perlu menyadari bahwa memahami Islam secara menyeluruh adalah suatu kewajiban baginya karena dengan memahami syariat secara sempurna akan menjadi rem bagi seseorang untuk tidak melakukan maksiat, sekecil apa pun itu. Pentingnya mengkaji Islam supaya pengetahuan tentang agamanya lebih luas lagi sehingga mengetahui bahwa dalam Islam tak sekadar ada perintah shalat, zakat, puasa, dan sedekah, akan tetapi ada kewajiban lainnya yang tak boleh diabaikan, yakni kebersihan diri dan lingkungan.
Demikian juga dengan pemimpinnya, ia diwajibkan menerapkan syariat Islam secara sempurna di berbagai lini kehidupan, termasuk memberikan pelayanan berupa fasilitas umum yang memadai bagi masyarakatnya. Dengan melaksanakan yariat yang diperintahkan Allah Swt., meniscayakan penguasa akan meriayah rakyatnya sesuai koridor syarak dan memberikan sanksi tegas kepada siapa pun yang melakukan kemaksiatan sekaligus mencegah orang lain untuk melakukan hal yang sama. Sehingga melalui syariat Islam akan terwujud kehidupan yang nyaman di masyarakat.


