
Suara Pembaca
Setiap hari, selalu saja gebrakan baru. Sepertinya, negeri ini sudah sangat layak menyandang gelar negara dengan sejuta gebrakan yang dar der dor. Masyarakat membuka media sosial mencoba update informasi, seolah menjadi penonton kebijakan pemerintahnya yang tak ubahnya kebijakan menggelitik, konyol, dan asli memalukan. Terbaru, POLRI dan TNI ikut menanam jagung dan mengurus dapur MBG (6/4/2026).
Presiden Prabowo Subianto memuji Polri yang makin “peka terhadap tuntutan bangsa” dengan ikut menanam jagung bersama TNI serta mengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Kalau kau berangkat ke Inggris, Prancis, ke Barat, mungkin mereka merasa aneh. Kok polisi urusin jagung, oh masa polisi kok buka dapur. Ya ini Indonesia, Bung!” ujar Prabowo, menegaskan bahwa pendekatan Indonesia tidak harus mengikuti model Barat.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari sutradara film dokumenter Dirty Vote, Dandhy Laksono. Ia menilai keterlibatan aparat dalam urusan pertanian dan logistik pangan bukanlah hal yang membingungkan bagi pihak luar, melainkan sesuatu yang lebih sederhana. “Gak perlu cerdas buat beginian. Cukup tahan malu,” sindir Dandhy.
Memang benar, di negeri yang kaya raya ini, semangat akan gotong royong dan jiwa tolong-menolong begitu kental bahkan sudah mendarah daging. Apalagi jika berbau uang, kekuasaan, atau kepentingan, semua bisa diatur semulus mungkin. Perubahan fungsi sangat mungkin terjadi bagi institusi penegak hukum, seharusnya menjadi garda terdepan penjamin keamanan dan keselamatan rakyat dan negara beralih menjadi petani dan koki massal.
Sementara itu, tingkat kriminalitas dan kejahatan di Indonesia termasuk yang sangat tinggi. Idealnya, adanya POLRI dan TNI mampu menumpas itu semua agar menjadikan Indonesia aman, tenteram, dan damai. Tentu yang demikian bisa tercapai jika negara mendukung dan memfasilitasi tugas utama mereka dengan benar dan maksimal. Namun, tampaknya negara sendiri yang mengerdilkan bahkan mengalihfungsikan tugas utama POLRI dan TNI.
Sungguh inovasi yang luar biasa, ketika tugas utama mereka dirasa terlalu berat atau dikhawatirkan menjegal kepentingan penguasa padahal perekrutannya begitu massif, jadilah dialihkan saja ke ladang jagung dan dapur umum. Jangan-jangan, suatu hari nanti, hakim bisa menjadi memimpin panen raya atau jaksa mengaduk sambal untuk MBG. Katanya semua demi rakyat, tentu saja. Yang penting, malunya tetap dijaga agar tetap terlihat natural.
Uang rakyat seolah menjadi ladang basah dan bancakan bagi pihak yang diberi amanah kekuasaan di negara ini. Maka wajar bahkan sangat wajar bahwa mereka menetapkan kebijakan yang asal dan serampangan, terkesan jauh dari aspek prioritas. Tujuannya agar mereka terlihat seolah kerja keras, tetapi nyatanya tengah memeras keringat bahkan darah rakyatnya sendiri. Jika demikian, nenar adanya bahwa tanggung jawab dan rasa malu sudah benar-benar tercerabut jauh dari akar otak para penguasa, apalagi takut akan penghisaban kelak di akhirat.
Beta Arin Setyo Utami, S. Pd.


